TANAH

TUGAS

Dasar-dasar Ilmu Tanah

“tanah”

NAMA                          :  NOVIA ANJANI

NIM                                : D1B011027

KELAS                           :  AGRIBISNIS “D”

AGRIBISNIS

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS JAMBI

2012

BAB I

PENDAHULUAN

Tanah (bahasa Yunani: pedon; bahasa Latin: solum) adalah bagian kerak bumi yang tersusun dari mineral dan bahan organik.

Ilmu yang mempelajari berbagai aspek mengenai tanah dikenal sebagai ilmu tanah.

Tanah secara umum dipahami sebagai bagian dari daratan muka bumi yang kepentingan manusia terhadapnya beragam.  Tanah sangat vital peranannya bagi semua kehidupan di bumi karena tanah mendukung kehidupan tumbuhan dengan menyediakan hara dan air sekaligus sebagai penopang akar. Struktur tanah yang berongga-rongga juga menjadi tempat yang baik bagi akar untuk bernapas dan tumbuh. Tanah juga menjadi habitat hidup berbagai mikroorganisme. Bagi sebagian besar hewan darat, tanah menjadi lahan untuk hidup dan bergerak.

Dalam pertanian, tanah diartikan lebih khusus yaitu sebagai media tumbuhnya tanaman darat. Sebagai media tumbuh tanaman maka tanah befungsi sebagai :

  • Tempat berjangkar dan berkembangnya perakaran tanaman
  • Sebagai penyedia makanan untuk tanaman (hara tanaman)
  • Sebagai penyedia air bagi tanaman

Terkait dengan pengertian tanah sebagai media tumbuh maka tanah dapat dipelajari melalui ilmu edaphologi: -> Edaphologi mempelajari tanah sebagai media tumbuh dalam  hubungannya dengan pertumbuhan tanaman. Untuk mempelajari tanah secara komprehensif maka perlu mempelajari bidang khusus dalam ilmu tanah di antaranya:

v  Fisika tanah                                         : Mempelajari sifat fisika tanah

v  Kimia Tanah                                        : Mempelajari sifat kimia tanah

v  Kesuburan tanah                                 : Mempelajari unsur hara tanah dan pertumbuhan  tanaman dan usaha memperbaikinya

v  Survei tanah                                        : Mempelajari sifat tanah di lapangan & pengelompokannya dan menggambarkannya dalam peta tanah

v  Mikrobiologi tanah                              : Mempelajari mikroorganisme yang  berpengaruh terhadap  tanah &tanaman

v  Mineralogi Tanah                                 :  Mempelajari mineral dan pengaruhnya terhadap tanah dan tanaaman

v  Genesis dan klasifikasi tanah              : Mempelajari  pembentukan tanah dan klasifikasinya

v  Konservasi (pengawetan) tanah dan air          : mempelajari jenis dan proses-proses erosi, usaha usaha pencegahan erosi atau pengawetan tanah dan air

BAB II

BAHAN-BAHAN PENYUSUN TANAH

Tanah tersusun dari 4 bahan utama, yaitu: bahan mineral, bahan organic, air dan udara. Bahan-bahan penyusun tersebut jumlahnya masing-masing berbeda untuk setiap jenis tanah ataupun setiap lapisan tanah. Pada tanah lapisan atas yang baik untuk pertumbuhan tanaman lahan kering (bukan sawah) umumnya mengandung 45% (volume) bahan mineral, 5% bahan organic, 20-30% udara, 20-30% air.

1.      Bahan Mineral
Bahan mineral dalam tanah berasal dari pelapukan batu-batuan. Bahan mineral dalam tanah

dapat dibedakan menjadi

  • Fraksi tanah halus (fine earth fraction) yng berukuran < 2mm, pasir 2mm-50µ, debu 50-2, liat <2
  • Fragmen batuan (rock fragment) yang berukuran 2mm sampai ukuran horisontalnya lebih kecil dari sebuah pedon.  Dari kerikil, kerakal atau batu.

Mineral tanah dibedakan menjadi mineral primer dan mineral sekunder. Mineral primer adalah mineral yang berasal langsung dari batuan yang dilapuk, biasanya terdapat dalam fraksi-fraksi pasir dan debu. sedang mineral sekunder adalah mineral bentukan baru yang terbentuk selama proses pembentukan tanah berlangsung, umumnya terdapat dalam fraksi liat.

Mineral primer adalah mineral yang banyak mengandung unsur Mg dan Fe umumnya berwarna kelam sehingga sering disebut mineral kelam. Mineral sekunder  yang sering ditemukan dalam tanah antara lain kaolinit, haloisit, montmorilonit, Al oksida, Fe oksida dll.

2.      Bahan Organik

Bahan organic berasal dari hasil penimbunan sisa-sisa tumbuhan dan binatang, sebagian telah mengalami pelapukan dan pembentukan kembali menjadi mangsa jasad mikro, sehingga sifatnya selalu berubah atau tidak mantap. Bahan organik umumnya ditemukan di permukaan tanah jumlahnya tidak besar, hanya sekitar 3-5 %. Kadar bahan organik pada tanah mineral umumnya < 3%.

Pengaruh bahan organic terhadap sifat-sifat tanah dan akibatnya terhadap pertumbuhan. Berfungsi sebagai perekat butiran tanah, sumber utama unsur N, P dan S, meningkatkan kemampuan tanah dan menahan air dan hara serta sebagai sumber energi bagi jasad mikro.

Komposisi :

  1. jaringan asli (bagian akar dan atas tanaman) dan bagian baru yang telah mengalami    pelapukan.
  2. humus : telah diubah dari sifat aslinya secara menyeluruh, berwarna hitam, bersifat kolodial, kemampuan menahan air dan ion lebih besar dari liat.

Tanah yang banyak mengandung humus atau bahan organic adalah tanah-tanah lapisan atas atau top soil.

3.      Air

Air terdapat dalam tanah terdapat dalam ruang pori tanah. Kuat atau tidaknya air ditahan oleh tanah yang mempengaruhi tingkat ketersediaan air tanah bagi tanaman.

  • Air dalam pori besar umumnya tidak tersedia bagi tanaman karena segera hilang merembes ke bawah.
  • Air dalam pori sedang: mudah diserap oleh tanah.
  • Air dalam pori halus : sulit diambil oleh tanaman. Jadi, tidak semua air dalam tanah tersedia bagi tanaman, sebagian tetap tinggal dalam tanah.
  • Larutan tanah mengandung garam-garam larut, sebagian besar berupa hara tanaman :
    · N, P ,K Ca, Mg dan S (hara makro)
  • · Fe,Mn, B, Mo,Cu, Zn dan Cl (hara mikro)
  • Terjadi dinamika hara dengan adanya pertukaran antara hara dalam larutan dengan yang terdapat di permukaan tanah.

Air dapat meresap atau ditahan oleh tanah karena adanya gaya adhesi, kohesi, dan gravitasi. Adanya gaya tersebut maka air dapat dibedakan menjadi Air higroskopik dan air kapiler.

4.      Udara

Udara menempati pori tanah (terutama sedang dan besar) yang tidak terisi air. Jumlahnya berubah-ubah tergantung kondisi air tanah.

Susunan udara dalam tanah berbeda dengan susunan udara di atmosfir sebagai berikut :

  • kandungan uap air lebih tinggi. Tanah yang lembab mempunyai udara dengan kelembaban nisbi (relative humidity=RH) mendekati 100%
  • kandungan CO2 > atmosfer (<0,03%)
  • kandungan O2 < atmosfer (udara tanah 10-12% 02 ; atmosfir 20%(O2)

BAB III

PROSES PEMBENTUKAN TANAH

Hans Jenny (1899-1992), seorang pakar tanah asal Swiss yang bekerja di Amerika Serikat, menyebutkan bahwa tanah terbentuk dari bahan induk yang telah mengalami modifikasi/pelapukan akibat dinamika faktor iklim, organisme (termasuk manusia), dan relief permukaan bumi (topografi) seiring dengan berjalannya waktu. Berdasarkan dinamika kelima faktor tersebut terbentuklah berbagai jenis tanah dan dapat dilakukan klasifikasi tanah.

Proses pembentukan tanah dikenal sebagai ”pedogenesis”. Proses yang unik ini membentuk tanah sebagai tubuh alam yang terdiri atas lapisan-lapisan atau disebut sebagai horizon tanah

Asal tanah:

Merupakan hasil pelapukan batuan dan bercampur dengan bahan organik dari vegetasi (tumbuhan) dan hewan dan makhluk lain yang hidup di atas dan di dalamnya

Berdasarkan asal usul dan proses terjadinya tanah maka tanah diartikan sebagai :

Tubuh alam bebas dipermukaan bumi yang  terdiri dari bahan mineral, bahan organik, air, dan udara yang tersusun  dalam horison-horison (lapisan) yang terbentuk akibat kerja gaya-gaya alam

Pembentukan tanah di bagi menjadi empat tahap

  1. Batuan yang tersingkap ke permukaan bumi akan berinteraksi secara langsung dengan atmsosfer dan hidrosfer. Pada tahap ini lingkungan memberi pengaruh terhadap kondisi fisik. Berinteraksinya batuan dengan atmosfer dan hidrosfer memicu terjadinya pelapukan kimiawi.
  2. Setelah mengalami pelapukan, bagian batuan yang lapuk akan menjadi lunak. Lalu air masuk ke dalam batuan sehingga terjadi pelapukan lebih mendalam. Pada tahap ini di lapisan permukaan batuan telah ditumbuhi calon makhluk hidup.
  3. Pada tahap ke tiga ini batuan mulai ditumbuhi tumbuhan perintis. Akar tumbuhan tersebut membentuk rekahan di lapisan batuan yang ditumbuhinya. Di sini terjadilah pelapukan biologis.
  4. Di tahap yang terakhir tanah menjadi subur dan ditumbuhi tanaman yang ralatif besar.
  1. Profil Dan Solum Tanah

Lapisan tanah mempunyai sifat yang berbeda-beda. Disuatu tempat ditemukan lapisan pasir berselang-seling dengan lapisan liat, lempung atau debu, sedang di tempat lain ditemukan tanah yang semuanya terdiri dari liat, tetapi di lapisan bawah berwarna kelabu dengan bercak-bercak marah, di bagian tengah berwarna merah, dari lapisan atasnya berwarna kehitam-hitaman. Lapisan-lapisan  tersebut terbentuk karena dua hal yaitu:

  1. Pengendapan yang berulang-ulang oleh genangan air apabila air genangan tersebut masih mengalir dengan kecepatan tinggi maka hanya butir-butir kasar seperti pasir kerikil yang dapat diendapkan.
  2. Karena proses pembantukan tanah. Proses pembentukan tanah dimulai dari proses pelapukan batuan induk menjadi bahan induk tanah, di ikuti oleh proses percampuran bahan organic dengan bahan mineral di permukaan tanah, pembebtukan struktur tanah, pemindahan bahan-bahan tanah dari bagian atas tanah ke bagian bawah dan berbagai proses lain yang dapat menghasilkan horizon-horison tanah. Horizon tanah adalah lapisan-lapisan tanah yang terbentuk karena hasil dari proses pembentukan tanah.

Proses pembantukan horizon-horison tersebut akan menghasilkan benda alam baru yang disebut tanah. Penampang vertical dari tanah yang menunjukkan susunan horizon tanah tersebut profil tanah. Ada 6 horison utama yang menyusun profil tanah berturut-turut dari atas ke bawah yaiti horizon O,A,E,B,C, dan R. sedang horizon yang menyusun solum tanah adalah hanya horizon A,E dan B

1.Horison O

Horiosn ini ditemukan di lahan kering terutama pada daerah hutan yang belum terganggu tanahnya. Horison O dapat dibagi atas :

a. O1 horison yang bentuk asli sisa-sisa tanaman masih jelas kelihatan.

b. O2 horison yang bentuk asli sisa tanaman sudah tidak bisa kelihatan.

2. Horison A

            Horison A merupakan horison dipermukaan tanah yang terdiri dari campuran bahan organik dan bahan mineral. Merupakan harison yang proses eluviasi terjadi yaitu proses pencucian unsur-unsur dan bahan-bahan halus seperti lempung. Horison ini dibagi atas tiga bagian yaitu:

a. A1: bahan mineral campur dengan humus, berwarna gelap

b. A2: horison dimana terdapat pencucian (eluviasi) maksimum terhadap lempung, Fe dan bahan organik.

c. A3: horison peralihan ke B, lebih menyerupai A.

3. Horison B

Horison iluviasi (penimbunan) dari bahan-bahan yang tercuci di atasnya (lempung, Fe, Al, bahan organik)

a. B1 horison perlaihan dari A ke B, tetapi lebih menyerupai B.

b. B2 horison penimbunan (iluviasi) maksimum liat, Fe dan Al oksida, kadang-kadang bahan organik.

c. B3 horison peralihan ke C, tetapi lebih menyerupai B.

4. Horison C

Horison C merupakan horison yang masih sedikit mengalami pelapukan, horison C biasa juga disebut dengan horison isovolumetrik. Yaitu harison dimana volume batuan belum mengalami perubahan tetapi berat jenis batuan telah mengalami perubahan akibat adanya unsur-unsur penyusun batuan yang keluar dari batuan induk.

5. Horison E

Horison dimana terjadi pencucian (eluviasi) maksimum terhadap liat, Fe, Al, bahan organic. Barwarna pucat.

6. Horison R

Batuan keras yang belum dilapuk. Tidak dapat ditembus akar tanaman.

Horizon Peralihan

AB- horison peralihan dari A ke B, tetapi lebih menyerupai A(nama lama A3)

BA- horison peralihan dari A ke B, tetapi lebih menyerupai B (nama lama B1)

BC- horison peralihan dari B ke C, tetapi lebih menyerupai B (nama lama B3)

Kegunaan profil tanah :

a)  Untuk mengetahui kedalaman lapisan olah (Lapisan Tanah Atas = O-A) dan solum(O-A-E-B)

b)  Untuk mengetahui kelengkapan atau differensiasi horison pada profil

c)  Untuk mengetahu warna tanah

  1. Pedon Dan Polipedon

Tanah yang telah berkembang dengan berbagai proses mempunyai sifat yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut maliputi perbedaan sifat-sifat profil tanah seperti jenis dan susunan horizon, kedalaman solum tanah, kandungan bahan organic dan liat, kandungan air dan sebagainya.

Simbol Baru Horison Tanah

Penamaan horison tanah mengalami perubahan yang dilakukan oleh Soil Survey Staff (1987). Adapun perubahan tersebut adalah sebagai berikut:

Nama Lama Nama Baru Penjelasan
O O Hoison organik yang selalu jenuh air atau tidak pernah jenuh air. Kandungan bahan organik > 20% (pasir) atau 30 % (lempung)
O1    Oi, Oe Tingkat dekomposisi bahan organik kasar (fibrik= i) atau sedang (hemin= e)
O2    Oa, Oe Tingkat dekomposisi bahan organik halus (saprik = a) atau sedang (hemik = e)
A1 A Horison mineral di permukaan, campuran bahan mineral dan bahan organik.
A2 E Horiosn eluviasi maksimum
A3 AB

EBPeralihan A1(A) ke B lebih menyerupai A1(A)

Peralihan dari A2 (E) ke B, lebih menyerupai A2(E)B1BA

BEPeralihan dari A1(A) ke B, lebih menyerupai B

Peralihan dari A2(E) ke B, lebih menyerupai BB2Ba. horison iluviasi (penimbunan) liat, Fe, Al atau humus

b. konsentrasi (penimbunan) relatif dari seskuioksida (Fe, Al) karena Si tercuci

c. terdapat perubahan (alterasi) dari bahan induk misalnya (terbentuk mineral liat, oksida-oksida dibebaskan sehingga warnah menjadi lebih merah, terbentuk struktur tanah granuler, gumpal (blocky), prismatik dan lain-lain.B3BC

CBPerlihan dari B ke C lebih menyerupai B

Peralihan dari B ke C lebih menyerupai CCCBahan induk (regolit), lunakR (D)RBatuan induk, keras

Horison Peralihan

Horison peralihan diberi simbol dengan dua huruf besar dari masing-masing horison utama yang beralih sifat.

1. Horison AB (nama lama A3): yaitu horison peralihan dari A ke B, tetapi lebih menyerupai A

2. Horison EB (nama lama A3): horison peralihan dari E ke B tetapi lebih menyerupai E.

3. Horison BA (nama lama B1): horison peralihan dari E ke B, tetapi lebih menyerupai B.

4. Horison BC (nama lama B3): horison peralihan dari B ke C, tetapi lebih menyerupai B

Penjelasan diatas menunjukkan bahwa horison utama yang dominan selalu ditulis lebih dahulu. Selain itu perlu dijelaskan bahwa simbol horison peralihan tetap digunakan meskipun salah satu horison utamanya sudah tidak ada. Misalnya simbol horison AB tetap digunakan meskipun horison A telah hilang tererosi. Demikian pula simbol horison BC tetap digunakan meskipun horison C telah hilang berubah menuju ke horison B.

Kadang-kadang ditemukan horison peralihan yang terdiri dari dua horison utama misalnya akibat salah satu horison menyusup ke dalam horison yang lain. Untuk horison seperti ini simbol khusus perlu diberikan dengan garis miring di antara dua simbol horison yang bersangkutan.

1. Horison E/B: horison peralihan terdiri dari horison E dan horison B , volume horison E lebih banyak daripada horison B.

2. Horison B/E: horison peralihan terdiri dari horison B dan horison E, volume horison B lebih banyak daripada horison E.

3. Horison B/C: horison peralihan terdiri dari horison B dan horison C volume horison B lebih banyak dari pada horison C.

Satuan individu terkecil dalam 3 dimensi yang masih dapat disebut tanah dinamakan pedon. pedon berukuran antara 1-10 m2 sehingga cukup luas untuk dipelajari sifat-sifat dan susunan horizon tanah yang ada.

Karena kecilnya ukuran pedon maka pedon tidak dapat digunakan sebagai satuan dasar untuk pengelompokan tanah lapang. Oleh karena itu, untuk dasar pengelompokan tanah di lapangan dipergunakan polypedon yang merupakan kumpulan dari pedon yang mempunyai sifat-sifat yang sama dalam arti semua pedon tersebut masuk dalam satu seri tanah yang sama.

  1. Proses Pelapukan Batuan Dan Mineral

Tanah dapat barasal dari batuan keras (batuan beku, batuan sedimen tua, batuan metamorfosa) yang melapuk atau dari bahan-bahn yang lebih lunak dan lepas seperti abu volkan, bahan endapan baru dan lain-lain. Dengan proses pelapukan maka permukaan batuan yang keras menjadi hancur dan berubah menjadi bahan yang lunak yang disebut regolith.

Proses pelapukan mencakup beberapa hal yaitu pelapukan secara fisik, biologok-mekanik, dan kimia.

  1. Pelapukan Secara Fisik

Pelapukan secara fisik yang terpenting adalah akibat naik turunnya suhu dan perbedaan kemampuan memulai (mengembang) dan mengerut dari masing-masing mineral. Di daerah dingin, bila air masuk dalam batuan berubah menjadi es akibat suhu yang sangat rendah, maka karena volume es lebih besar dari volume air, juga dapat menyebabkan pecahnya batu-batuan. Pengangkutan batuan dari suatu tempat ketempat lain oleh air juga dapat menyebabkan pelapukan batuan secara fisik.

  1. Pelapukan Secara Biologic-Mekanik

Akar-akar yang masuk ke dalam batuan melalui retakan-retakan batuan dapat terus berkembang dengan kekuatan yang sangat tinggi sehingga dapat menghancurkan batuan tersebut. Sel-sel akar tang berkembang dapat menimbulkan kekuatan lebih dari 10 atmosfer sehingga tidak mengherankan kalau batuan dapat menjadi hancur akibat perkembangan akar didalamnya.

  1. Pelapukan Secara Kimia

Hidrasi dan Dehidrasi.

Hidrasi (hidration) adalah reaksi kimia di mana molekul air terikat oleh senyawa-senyawa tertentu, CaSO4 + 2H2O à CaSO4 2H2O

sedang dehidrasi adalah hilangnya molekul air dari senyawa-senyawa tersebut.        CaSO4 2H2O à CaSO4 + 2H2O

Oksidasi dan Reduksi

Oksidasi adalah suatu proses dimana electron-elektron atau muatan listrik negative menjadi berkurang. Reduksi berarti penambahan electron. Oksidasi berlangsung baik bila oksigen cukup tersedia, sedang reduksi akan berjalan bila tidak ada oksigen (pada tanah yang tergenang).

Fe++ à Fe+++ + e    (oksidasi)

Fe+++ + e à Fe++    (reduksi)

Hidrolisis terjadi karena adanya penggantian kation-kation dalam struktur Kristal oleh hydrogen sehingga struktur Kristal rusak dan hancur.

K Al Si3 O8 + H+ —- H Al Si3 O8 + K+ feldspar

Pelarutan (solution) pelarut terjadi pada garam-garam sederhana seperti karbonat, klorida, dan lain-lain. CaCO3 + 2H+ —- H2 CO3 + Ca++

  1. Pembentukan Profil Tanah

Dalam pembentukan tanah selanjutnya terjadilah berbagai proses pembentukan tanah. Proses pembentukan tanah tersebut menyangkut beberapa hal, yaitu:

Penambahan bahan-bahan dari tempat lain ke tanah misalnya, penambahan air hujan, embun, O2, N, Cl, S dan CO2 dari atm, curah hujan, bahan organik dari sisa tanaman/hewan, bahan endapan, dan energy sinar matahari.

Kehilangan bahan-bahan yang ada ditanah, misalnya, kehilangan air melalui penguapan(evapotranspirasi), kehilangan N melalui proses denitrifikas, kehilangan C (bahan organic) sebagai CO2 karena dekomposisi bahan organic, kehilangan tanah karena erosi, kehilangan energy karena radiasi.

Perubahan bentuk (transformation) misalnya, perubahan bahan organic kasar menjadi humus, penghancuran pasir menjadi debu lalu liat, pembentukan struktur tanah, pelapukan mineral dan pembebtukan mineral liat, pembentukan konkresi.

Pemindahan solum misalnya, pemindahan liat, bahan organic, Fe, Al dari lapisan atas ke lapisan bawah.

Tabel. Beberapa contoh Proses Pembentukan Tanah

No Proses Penjelasan
1 a. Eluviasi

b. Iluviasi(4)* Pemindahan bahan-bahan tanah dari satu horison ke horison lain.

(4) Penimbunan bahan-bahan tanah dalam suatu horison2a. Leaching

b. Enrichment(2) Pencucian basa-basa (unsur hara) dari tanah

(1) Penambahan basa-basa (unsur hara) dari tempat lain.3a. Dekalsifikasi

b. Kalsifikasi(4) Pemindahan CaCO3 dari tanah atau suatu horison tanah.

(4) Penimbunan CaCO3dalam suatu horison tanah4a. Desalinisasi

b. Salinisasi(4) Pemindahan garam-garam mudah larut dari tanah atau suatu horison tanah.

(4) Pemindahan garam-garam mudah larut dalam suatu horison tanah5a.Dealkalinisasi (solodisasi)

b.Alkalinisasi (solonisasi)(4) Pencucian ion-ion Na dalam suatu horison tanah.

(4) Akumulasi ion-ion Na dalam suatu horison tanah6a. Lessivage

b. Pedoturbasi(4) Pencucian (pemindahan) liat dari suatu horison ke horison lain dalam bentuk suspensi (secara mekanik). Dapat terbentuk tanah ultisol (podsolik) atau alfisol.

(4) Pencampuran secara pisik atau biologik beberapa horison tanah sehingga horison-horison tanah yang telah terbentuk menjadi hilang, terjadi pada tanah-tanah vertisol (grumosol)7a.Podzolisasi (Silikasi)

b.Desilikasi (feralisasi, laterisasi, latolisasi(3,4) Pemindahan Al an Fe dan atau bahan organik dari suatu horison ke horison lain secara kimia. Si tidak ikut tercuci sehingga pada horison yang tercuci meningkat konsentrasinya. Dapat terbentuk tanah spodosol (podzol)

(3,4) Pemindahan silika secara kimia keluar dari solum tanah sehingga konsentrasi Fe dan Al meningkat secara relatif. Terjadi di daerah tropika dimana curah hujan dan suhu tinggi sehingga Si mudah larut. Dapat terbentuk tanah oxisol (laterit, latosol)8a. Melanisasi

b. Leusinasi(1,4) Pembentukan warna hitam (gelap) pada tanah karena pencampuran bahan organik dengan bahan mineral. Dapat terbentuk tanah Mollisol.

(4) Pembentukan horison pucat karena pencucian bahan organik.9a.Braunifikasi, rubifikasi, Feruginasi

b. Gleisasi(3,4) Pelepasan besi dari mineral primer dan disperdi partikel-partikel besi oksida yang makin meningkat. Berdasar besarnya oksida dan hidrasi dari besi oksida tersebutmaka dapat menjadi coklat(braunifikasi), coklat kemerahan (rubifikasi) dan merah (feruginasi).

(3,4) Reduksi besi karena keadaan anaerobik (tergenang air) sehingga terbentuk warna kebiruan atau kelabu kehijauan.10a. Littering

b. Humifikasi(1) Akumulasi bahan organik setebal kurang dari 30 cm dipermukaan tanah mineral.

(3) Perubahan bahan organik kasar menjadi humus

Keterangan *

(1): Penambahan bahan ke tanah

(2) kehilangan bahan dari tanah

(3) Perubahan bentuk (transformasi)

(4) Pemindahan dalam tanah (translokation)

  1. Disintegrasi dan Sintesis

Disintegrasi terjadi dalam proses pelapukan mineral dalam batuan sehingga mineral dan batuannya hancur dan unsur-unsur penyusunnya terlepas dari mineral tersebut. Selanjutnya terjadilah proses sintesis (pembentukan) mineral baru (mineral sekunder) yang berupa mineral liat dari senyawa-senyawa hasil disintegrasi tersebut.

Dengan adanya pelapukan (disintegrasi) batuan maka tersedialah unsur-unsur hara dari mineral yang lapuk sehingga tanaman dari hewan-hewan sederhana mulai tumbuh. Pelapukan mineral-mineral primer juga menghasilkan mineral-mineral liat (suatu proses sintesis) yang mampu menahan unsure hara dan air yang amat penting bagi pertumbuhan tanaman.

  1. Organisme dan Bahan Organik

Sisa tanaman atau binatang mula-mula tetap berada diatas(disebut horizon O) atau didalam tanah. Setelah sisa-sisa organisme ini tercampur dengan bagian mineral tanah akibat kegiatan organisme hidup. Maka awal dari pembentukan horizon-horison tanah terjadi. Tanah lapisan atas ini menjadi berwarna lebih gelap dan terbentuk struktur tanah yang lebih stabil sebagai pengarih dari bahan organic tersebut (disebut horizon A).

  1. Siklus Unsur Hara

Organism hidup dan air tanah bersama-sama telah membantu menetapkan nisbah asam-basa dalam larutan tanah. Unsure-unsur hara tanaman diserap oleh tanaman dari tanah ke bagian atas tanaman, kemudian dilepaskan lagi melalui sisa-sisa tanaman yang jatuh di permikaan tanah, dan masuk kedalam tanah kembali bersama air perkolasi, dan siap untuk diserap oleh tanaman kembali. Siklus unsure hara membantu mengontrol keseimbangan asam-basa dan larutan bahan-bahan yang melapuk dalam horizon tanah yan terbentuk.

  1. Peranan Air

Air tanah selalu aktif semenjak permulaan dalam membantu proses pembentukan horizon-horison tanah. Air penting untuk pertumbuhan tanaman dan reaksi-reaksi kimia dalam pelapukan mineral. Air perkolasi membantu siklus unsure hara dan pemindahan liat, oksida besi dan aluminium, garam-garam dll. Di daerah kering gerakan air ke atas (kapiler), menyebabkan terjadinya akumulasi garam dipermikaan tanah.

  1. Tanah Sebagai Sistem Terbuka

Tanah merupakan system terbuka, artinya sewaktu-waktu tanah itu dapat menerima tambahan bahan dari luar.

  1. Faktor-Faktor Pembentukan Tanah

Ilmu yang mempelajari proses-proses pembentukan tanah mulai dari bahan induk disebit ganesa tanah. Banyak factor yang mempengaruhi proses pembentukan tanah, tetapi hanya lima factor yang dianggap paling penting yaitu:

Iklim

Merupakan factor yang paling penting dalam proses pembentukan tanah. Suhu dan curah hujan sangat berpengaruh terhadap intensitas reaksi kimia dan fisika dalam tanah. Setiap suhu naik 100C maka kecepatan reaksi menjadi dua kali lipat. Reaksi-reaksi oleh mkroorganisme juga sangat dipengaruhi oleh suhu tanah.

  • SuhuJika suhu semakin tinggi maka makin cepat pula reaksi kimia berlangsung
    • Curah Hujan Makin tinggi curah hujan, makin tinggi pula tingkat keasaman tanah

Organisme

Akumulasi bahan organic, siklus unsure hara, dan pembentukan struktur tanah yang stabil sangat dipengaruhi oleh kegiatan organism dalam tanah. Semua makhluk hidup berpengaruh. Baik itu jasad renik, tumbuhan, hewan bahkan manusia. Bahan organaik berpengaruh dalam pembentukan warna dan zat hara dalam tanah.

Bahan induk

Susunan kimia dan mineral bahan induk tidak hanya mempengaruhi intensitas tingkat pelapukan, tetapi kadang-kadang menentukan jenis vegetasi alami yang tumbuh di atasnya. Terdapatnya batu kapur di daerah humid akan menghambat tingkat kemasaman tanah. Di asamping itu, vegetasi yang hidup di atas tanah berasal dari batu kapur biasanya banyak mengandung basa-basa. Dengan adanya pengembalian basa-basa lapisan tanah atas melalui serasah dari vegetasi tersebut maka proses pengasaman tanah menjadi lebih lambat.

Batu-batuan di mana bahan induk tanah berasal dapat dibedakan menjadi:

  1. Batuan beku, terbentuk karena magma yang membeku
  2. Batuan sedimen, batuan endapan tua yang telah diendapkan brjuta tahun yang lalu hingga telah membentuk batuan yang keras
  3. Batuan metamorfosa(malihan), berasal dari batuan beku atau sedimen yang karena tekanan dan suhu sangat tinggi berubah menjadi jenis batuan lain.
  4. Bahan induk organik

Topografi

Relief adalah perbedaan tinggi atau bentuk wilayah suatu daerah termasuk didalamnya perbedaan kecuraman dan bentuk lereng. Relief mempengaruhi proses pembentukan tanah dengan cara :

  1. Mempengaruhi jumlah air hujan yang meresap atau ditahan masa tanah
  2. Mempengaruhi dalamnya air tanah
  3. Mempengaruhi besarnya erosi
  4. Mengarahkan gerakan air berikut bahan-bahan yang terlarut di dalamnya.

Tebal atau tipisnya lapisan tanah daerah yang memiliki topografi miring dan berbukit lapisan tanahnya lebih tipis karena tererosi, sedangkan daerah yang datar lapisan  tanahnya tebal  karena terjadi sedimentasi. Sistem drainase/pengaliran daerah yang drainasenya jelek seperti sering tergenang menyebabkan tanahnya menjadi asam.

Topografi alam dapat mempercepat atau memparlambat kegiatan iklim. Misalnya pada topografi miring membuat kecepatan air tinggi dan dapat meyebabkan terjadinya erosi.

Waktu

Tanah merupakan benda alam yang terus-menerus berubah dinamis) sehingga akibat pelapukan dan pencucian yang terus-menerus maka tanah-tanah yang semakin tua juga semakin kurus. Mineral yang banyak mengandung unsure hara telah habis mengalami pelapukan sehingga tinggal mineral yang sukar lapuk separti kuarsa. Profil tanah juga semakin berkembang dengan meningkatnya umur.

Karena proses pembentukan tanah yang terus berjalan bahan induk tanah berubah berturut-turut menjadi: tanah muda (immature atau young soil), tanah dewasa (mature soil) dan tanah tua (old soil). Lamanya bahan induk mengalami pelapukan dan perkembangan tanah memainkan peran penting dalam menentukan jenis tanah yang terbentuk

BAB IV

SIFAT-SIFAT FISIK DAN MORFOLOGI TANAH

Sifat morfologi tanah adalah sifat-sifat tanah yang dapat diamati dan dipelajari di lapang. Sebagian dari sifat-sifat morfologi tanah merupakan sifat-sifat fisik dari tanah tersebut.

  1. 1.      Batas-Batas Horison

Batas suatu horizon dengan horizon lainnya dalam suatu profil tanah dapat terlihat jelas atau baur. Dalam pengamatan tanah di lapang ketajaman peralihan horizon-horison ini dibedakan dalam beberapa tingkatan yaitu nyata (lebar peralihan kurang dari 2,5 cm), jelas (lebar peralihan 2,5-6,5 cm), berangsur (lebar peralihan 6,5-12,5 cm) dan baur (lebar peralihan lebih dari 12,5 cm) di samping itu, bentuk topografi dari batasan horizon tersebut dapat rata, berombak, tidak teratur atau terputus.

  1. 2.      Warna Tanah

Warna tanah merupakan ciri utama yang paling mudah untuk mendeterminasi tanah.

Menurut Hardjowigeno (1992) bahwa warna tanah berfungsi sebagai penunjuk dari sifat tanah, karena warna tanah dipengaruhi oleh beberapa faktor yang terdapat dalam tanah tersebut. Penyebab perbedaan warna permukaan tanah umumnya dipengaruhi oleh perbedaan kandungan bahan organik. Makin tinggi kandungan bahan organik, warna tanah makin gelap. Sedangkan dilapisan bawah, dimana kandungan bahan organik umumnya rendah, warna tanah banyak dipengaruhi oleh bentuk dan banyaknya senyawa Fe dalam tanah.

Di daerah berdrainase buruk, yaitu di daerah yang selalu tergenang air, seluruh tanah berwarna abu-abu karena senyawa Fe terdapat dalam kondisi reduksi (Fe2+). Pada tanah yang berdrainase baik, yaitu tanah yang tidak pernah terendam air, Fe terdapat dalam keadaan oksidasi (Fe3+) misalnya dalam senyawa Fe2O3 (hematit) yang berwarna merah, atau Fe2O3. 3 H2O (limonit) yang berwarna kuning cokelat. Sedangkan pada tanah yang kadang-kadang basah dan kadang-kadang kering, maka selain berwarna abu-abu (daerah yang tereduksi) didapat pula becak-becak karatan merah atau kuning,yaitu di tempat-tempat dimana udara dapat masuk, sehingga terjadi oksidasi besi ditempat tersebut. Keberadaan jenis mineral kwarsa dapat menyebabkan warna tanah menjadi lebih terang.

Penetapan Warna:

Warna tanah ditetapkan pada kandungan air tanah standar; kering (daerah arid), lembab (daerah humid). Penetapan warna tanah perlu dibandingkan pada berbagai kondisi intensitas dan kualitas cahaya. Pada suatu horizon dapat dijumpai lebih dari satu warna (warna dominan adalah warna yang meliput lebih 50% volume tanah). Warna tanah ditentukan dengan membandingkan warna tanah tersebut dengan warna standar pada buku Munsell Soil Color Chart. Diagram warna baku ini disusun tiga variabel, yaitu: (1) hue, (2) value, dan (3) chroma

  • Hue adalah warna spectrum yang dominan sesuai dengan panjang gelombangnya.
  • Value menunjukkan gelap terangnya warna, sesuai dengan banyaknya sinar yang dipantulkan.
  • Chroma
    menunjukkan kemurnian atau kekuatan dari warna spektrum. Chroma didefiniskan juga sebagai gradasi kemurnian dari warna atau derajat pembeda adanya perubahan warna dari kelabu atau putih netral (0) ke warna lainnya (19).

Berdasarkan buku Munsell Saoil Color Chart

  • Nilai Hue dibedakan menjadi: (1) 5 R; (2) 7,5 R; (3) 10 R; (4) 2,5 YR; (5) 5 YR; (6) 7,5 YR; (7) 10 YR; (8) 2,5 Y; dan (9) 5 Y, yaitu mulai dari spektrum dominan paling merah (5 R) sampai spektrum dominan paling kuning (5 Y), selain itu juga sering ditambah untuk warna-warna tanah tereduksi (gley) yaitu: (10) 5 G; (11) 5 GY; (12) 5 BG; dan (13) N (netral).
  • Value dibedakan dari 0 sampai 8, yaitu makin tinggi value menunjukkan warna makin terang (makin banyak sinar yang dipantulkan). Nilai Value pada lembar buku Munsell Soil Color Chart terbentang secara vertikal dari bawah ke atas dengan urutan nilai 2; 3; 4; 5; 6; 7; dan 8. Angka 2 paling gelap dan angka 8 paling terang.
  • Chroma juga dibagi dari 0 sampai 8, dimana makin tinggi chroma menunjukkan kemurnian spektrum atau kekuatan warna spektrum makin meningkat. Nilai chroma pada lembar buku Munsell Soil Color Chart dengan rentang horisontal dari kiri ke kanan dengan urutan nilai chroma: 1; 2; 3; 4; 6; 8. Angka 1 warna tidak murni dan angka 8 warna spektrum paling murni.
  1. 3.      Tekstur

Tekstur tanah merupakan sifat menggambarkan kasar halusnya tanah dalam perabaan yang ditentukan oleh perbandingan berat fraksi-fraksi penyusunnya. Suatu fraksi yang dominan pada suatu tanah akan menentukan ciri dan jenis yang bersangkutan.

Tanah yang bertekstur pasir mempunyai luas permukaan yang kecil sehingga sulit menyimpan atau menyerap air dan unsur hara. Tanah yang bertekstur lempung atau liat mempunyai luas permukaan yang besar sehingga kemampuan menahan air dan menyediakan unsur hara sangat tinggi. Tekstur tanah ringan yaitu tanah yang didominasi fraksi pasiran lebih mudah diolah dibandingkan dengan tekstur berat yang didominasi fraksi lempung.

Bahan- bahan tanah meliputi:

–          Pasir : 2mm – 50 u

–          Debu : 50u – 2u

–          Liat : < 2u

–          Lebih dari 2mm disebut bahan kasar (kerikil sampai batu)

Tekstur tanah dapat digolongkan :

  1. Apabila terasa kasar, berarti pasir, pasir berlempung
  2. Apabila terasa agak kasar, berarti lempung berpasir, lempung berpasir halus
  3. Apabila terasa sedang, berari lempung berpasir sangat halus, lempung, lempung berdebu, debu
  4. Agak halus, berarti  lempung liat, lempung liat berpasir, lempung liat berdebu
  5. Halus, berari liat berpasir, liat berdebu, liat

Di lapangan tekstur tanah dapat ditentukan dengan memijit tanah basah di antara jari-jari, sambil dirasakan  halus kasarnya yaitu dirasakan adanya butir-butir pasir debu dan liat, sebagai berikut:

Pasir:

–          Rasa kasar sangat jelas

–          Tidak melekat

–          Tidak dapat dibentuk bola dan gulungan

Pasir berlempung:

–          Rasa kasar jelas

–          Sedikit sekali melekat

–          Dapat dibentuk bola, mudah hancur

Lempung berpasir:

–          Rasa kasar agak jelas

–          Agak melekat

–          Dappat dibuat bola, mudah hancur

Lempung:

–          Rasa tidak kasar dan tidak licin

–          Agak melekat

–          Dapat dibentuk bola agak teguh, dapat sedikit dibuat gulungan dengan permukaan mengkilat

Lempung berdebu:

–          Rasa licin

–          Agak melekat

–          Dapat dibentuk bola agak teguh, gulungan dengan permukaan mengkilat

Debu:

–          Rasa licin sekali

–          Agak melekat

–          Dapat dibentuk bola teguh, dapat dibentuk gulungan dengan permukaan membulat

Lempung berliat:

–          Rasa agak licin

–          Agak melekat

–          Dapat dibentuk bola agak teguh, dapat dibentuk gulungan yang agak mudah hancur

Lempung liat berpasir:

–          Rasa halus dengan sedikit bagian agak kasar

–          Agak melekat

–          Dapat dibentuk bola agak teguh, dapat dibentuk gulungan mudah hancur

Lempung liat berdebu:

–          Rasa halus agak licin

–          Melekat

–          Dapat dibentuk bola teguh, gulungan mengkilat

Liat berpasir:

–          Rasa halus, berat tetapi tersa sedikit kasar

–          Melekat

–          Dapat dibentuk bola teguh, mudah di gulung

Liat berdebu:

–          Rasa halus, berat, agak licin

–          Sangat lekat

–          Dapat dibentuk bola teguh, mudah di gulung

Liat:

–          Rasa berat, halus

–          Sangat lekat

–          Dapat dibentuk bola dengan baik, mudah digulung

4.   Struktur Tanah

Struktur tanah merupakan sifat fisik tanah yang menggambarkan susunan ruangan partikel-partikel tanah yang bergabung satu dengan yang lain membentuk agregat dari hasil proses pedogenesis.

Struktur ini terjadi karena butir-butir pasir, debu dan liat terikat satu sama lain oleh suatu perekat seperti bahan organik, oksida-oksida besi dan lain-lain.

Ruang kosong yang besar antara agregat (makropori) membentuk sirkulasi air dan udara juga akar tanaman untuk tumbuh ke bawah pada tanah yang lebih dalam. Sedangkan ruangan kosong yang kecil ( mikropori) memegang air untuk kebutuhan tanaman. Idealnya bahwa struktur disebut granular.

Pengaruh struktur dan tekstur tanah terhadap pertumbuhan tanaman terjadi secara langsung. Struktur tanah yang remah (ringan) pada umumnya menghasilkan laju pertumbuhan tanaman pakan dan produksi persatuan waktu yang lebih tinggi dibandingkan dengan struktur tanah yang padat.

Macam macam struktur tanah

1.   Struktu tanah berbutir (granular): Agregat yang membulat, biasanya diameternya tidak lebih dari 2 cm. Umumnya terdapat pada horizon A yang dalam keadaan lepas disebut “Crumbs” atau Spherical.

2.   Kubus (Bloky): Berbentuk jika sumber horizontal sama dengan sumbu vertikal. Jika sudutnya tajam disebut kubus (angular blocky) dan jika sudutnya membulat maka disebut kubus membulat (sub angular blocky). Ukuranya dapat mencapai 10 cm.

3.   Lempeng (platy): Bentuknya sumbu horizontal lebih panjang dari sumbu vertikalnya. Biasanya terjadi pada tanah liat yang baru terjadi secara deposisi (deposited).

4.   Prisma: Bentuknya jika sumbu vertikal lebih panjang dari pada sumbu horizontal. Jadi agregat terarah pada sumbu vertikal. Seringkali mempunyai 6 sisi dan diameternya mencapai 16 cm. Banyak terdapat pada horizon B tanah berliat. Jika bentuk puncaknya datar disebut prismatik dan membulat disebut kolumner.

Tanah dengan struktur baik (granuler, remah) mempunyai tata udara yang baik, unsur-unsur hara lebih mudah tersedia dan mudah diolah. Struktur tanah yang baik adalah yang bentuknya membulat sehingga tidak dapat saling bersinggungan dengan rapat. Akibatnya pori-pori tanah banyak terbentuk. Di samping itu struktur tanah harus tidak mudah rusak (mantap) sehingga pori-pori tanah tidak cepat tertutup bila terjadi hujan.

5. konsistensi

Konsistensi tanah menunjukkan kekuatan gaya kohesi butir tanah atau daya adhesi butir-butir tanah dengan benda. Hal ini ditunjukkan oleh daya tahan terhadap gaya yang mengubah bentuk. Gaya-gaya tersebut misalnya pencangkulan. Pembajakan dan sebagainya. Tanah-tanah yang menpunyai konsistensi baik umumnya mudah diolah dan tidak melekat pada alat pengolah tanah.

Dalam keadaan lembab, tanah dibedakan kedalam konsistensi gembur (mudah diolah) sampai teguh (agak sulit dicangkul).

Dalam keadaan kering, tanah dibedakan kedalam konsistensi lunak sampai keras. Dalam keadaan basah dibedakan plastisitasnya yaitu dari plastis sampai tidak plastis atau kelekatannya yaitu dari tidak lekat sampai lekat.

Tanah basah    : kandungan air di atas kapasitas lapang.

a.  Tingkat Kelekatan, yaitu menyatakan tingkat kekuatan daya adhesi antara butir-butir tanah dengan benda lain, ini dibagi 4 kategori:

1.      Tidak Lekat (Nilai 0): yaitu dicirikan tidak melekat pada jari tangan atau benda lain.

2.      Agak Lekat (Nilai 1): yaitu dicirikan sedikit melekat pada jari tangan atau benda lain.

3.       Lekat (Nilai 2): yaitu dicirikan melekat pada jari tangan atau benda lain.

4.      Sangat Lekat (Nilai 3): yaitu dicirikan sangat melekat pada jari tangan atau benda lain.

b.  Tingkat Plastisitas, yaitu menunjukkan kemampuan tanah membentuk gulungan, ini dibagi 4 kategori berikut:

  1. Tidak Plastis (Nilai 0): yaitu dicirikan tidak dapat membentuk gulungan tanah.
  2. Agak Plastis (Nilai 1): yaitu dicirikan hanya dapat dibentuk gulungan tanah kurang dari 1 cm.
  3. Plastis (Nilai 2): yaitu dicirikan dapat membentuk gulungan tanah lebih dari 1 cm dan diperlukan sedikit tekanan untuk merusak gulungan tersebut.
  4. Sangat Plastis (Nilai 3): yaitu dicirikan dapat membentuk gulungan tanah lebih dari 1 cm dan diperlukan tekanan besar untuk merusak gulungan tersebut.

Tanah lembab  : kandungan air mendekati kapasitas lapang

Pada kondisi kadar air tanah sekitar kapasitas lapang, konsistensi dibagi 6 kategori sebagai berikut:

  1. Lepas (Nilai 0): yaitu dicirikan tanah tidak melekat satu sama lain atau antar butir tanah mudah terpisah (contoh: tanah bertekstur pasir).
  2. Sangat Gembur (Nilai 1): yaitu dicirikan gumpalan tanah mudah sekali hancur bila diremas.
  3. Gembur (Nilai 2): yaitu dicirikan dengan hanya sedikit tekanan saat meremas dapat menghancurkan gumpalan tanah.
  4. Teguh / Kokoh (Nilai 3): yaitu dicirikan dengan diperlukan tekanan agak kuat saat meremas tanah tersebut agar dapat menghancurkan gumpalan tanah.
  5. Sangat Teguh / Sangat Kokoh (Nilai 4): yaitu dicirikan dengan diperlukannya tekanan berkali-kali saat meremas tanah agar dapat menghancurkan gumpalan tanah tersebut.
  6. Sangat Teguh Sekali / Luar Biasa Kokoh (Nilai 5): yaitu dicirikan dengan tidak hancurnya gumpalan tanah meskipun sudah ditekan berkali-kali saat meremas tanah dan bahkan diperlukan alat bantu agar dapat menghancurkan gumpalan tanah tersebut

Tanah kering   : tanah dalam keadaan kering angin

Penetapan konsistensi tanah pada kondisi kadar air tanah kering udara, ini dibagi 6 kategori sebagai berikut:

  1. Lepas (Nilai 0): yaitu dicirikan butir-butir tanah mudah dipisah-pisah atau tanah tidak melekat satu sama lain (misalnya tanah bertekstur pasir).
  2. Lunak (Nilai 1): yaitu dicirikan gumpalan tanah mudah hancur bila diremas atau tanah berkohesi lemah dan rapuh, sehingga jika ditekan sedikit saja akan mudah hancur.
  3. Agar Keras (Nilai 2): yaitu dicirikan gumpalan tanah baru akan hancur jika diberi tekanan pada remasan atau jika hanya mendapat tekanan jari-jari tangan saja belum mampu menghancurkan gumpalan tanah.
  4. Keras (Nilai 3): yaitu dicirikan dengan makin susah untuk menekan gumpalan tanah dan makin sulitnya gumpalan untuk hancur atau makin diperlukannya tekanan yang lebih kuat untuk dapat menghancurkan gumpalan tanah.
  5. Sangat Keras (Nilai 4): yaitu dicirikan dengan diperlukan tekanan yang lebih kuat lagi untuk dapat menghancurkan gumpalan tanah atau gumpalan tanah makin sangat sulit ditekan dan sangat sulit untuk hancur.
  6. Sangat Keras Sekali / Luar Biasa Keras (Nilai 5): yaitu dicirikan dengan diperlukannya tekanan yang sangat besar sekali agar dapat menghancurkan gumpalan tanah atau gumpalan tanah baru bisa hancur dengan menggunakan alat bantu (pemukul).

Batas melekat  : kadar air dimana tanah mulai tidak daapat melekat pada benda           lain.

Batas menggolek: kadar air dimana gulungan tanah mulai tidak dapat digolek-golekkan.

Jangka olah     : menunjukkan besarnya kandungan air pada batas melekat dengan batas menggolek.

Indeks plastisitas (plasticity index): menunjukkan perbedaan kadar air pada batas mengalir dengan menggolek.

Batas ganti warna (titik ubah): tanah yang telah mengalami batas menggolek, masih dapat terus kehilangan air, sehingga lambat laun menjadi kering dan pada suatu ketika tanah menjadi berwarna lebih terang.

6.      Drainase Tanah

Drainase Tanah:adalah lamanya kondisi tergenang / jenuh air, bukan merupakan ukuran berapa cepat air terbuang dari tanah air dapat hilang melalui permukaan tanah maupun melalui peresapan ke dalam tanah. Berdasarkan atas klas drainasenya, tanah dibedakan menjadi klas drainase terhambat(tergenang) sampai sangat cepat (air sangat cepat hilang dari tanah).

Klas drainase ditentukan di lapang dengan melihat adanya gejala-gejala pengaruh air dalam penampang tanah. Gejala-gejala tersebut antara lain adalah warna pucat, kelabu, atau adanya becak-becak karatan. Warna pucat atau kelabu kebiru-biruan menunjukkan adanya pengaruh genangan air yang kuat, sehingga merupakan petunjuk adanya tanah berdrainase buruk. Adanya karatan menunjukkan bahwa udara masih dapat masuk ke dalam tanah setempat-setempat sehingga terjadi oksidasi di tempat tersebut dan terbentuk senyawa- senyawa Fe+++ yang berwarna merah. Bila air tidak pernah menggenang sehingga tata udara dalam tanah selalu baik, maka seluruh profil tanah dalam keadaan oksidasi (Fe+++). Oleh karena itu seluruh tanah umumnya berwarna merah atau cokelat.

Keadaan drainase tanah menentukan jenis tanaman yang dapat tumbuh. Sebagai contoh, padi dapat hidup pada tanah-tanah dengan drainase buruk, tatapi jagung, karet, cengkeh, kopi dan lain-lain tidak akan dapat tumbuh dengan baik kalau tanah selalu tergenang air.

7.      Bulk Density (Kerapatan Lindak)

Bulk density atau kerapatan lindak atau bobot isi menunjukkan perbandingan antara berat tanah kering dengan volume tanah termasuk volume poro-pori tanah.

Bulk density merupakan petunjuk kepadatan tanah. Makin padat suatu tanah makin tinggi bulk density, yang berarti makin ditembus akar tanaman. Pada umumnya bulk density berkisar dari 1,1-1,6 g/cc. bebeapa jenis tanah mempunyai bulk density kurang dari 0,90 g/cc (misalnya tanah andosol), bahkan ada yang kurang dari 0,10 g/cc (misalnya tanah gambut).

8.      Pori-Pori Tanah

Pori-pori tanah adalah bagian yang tidak terisi bahan pada tanah (terisi oleh udara atau air). Pori-pori tanah dapat dibedakan menjadi pori-pori kasar (macro pore) dan pori-pori halus (micro pore). Pori-pori kasar berisi udara atau air gravitasi (air yang mudah hilang karena gaya gravitasi), sedang pori-pori halus berisi air kapiler atau udara. Tanah- tanah pasir mempunyai pori-pori kasar lebih banyak daripada tanah liat. Tanah dengan banyak pori-pori kasar sulit menahan air sehingga tanaman mudah kekeringan.

Porositas tanah dipengaruhi:

–          Kandungan bahan organic

–          Struktur tanah

–          Tekstur tanah

Porositas tanah tinggi kalau bahan organik tinggi,  tanah-tanah dengan struktur granuler ataau remah, mempunyai porositas yang lebih tinggi daripada tanah-tanah dengan struktur massive (pejal). Tanah dengan tekstur pasir banyak mempunyai pori-pori makro sehingga sulit untuk menahan air.

9.      Potensi Mengembang Dan Mengerut

Beberapa tanah mempunyai sifat mengembang (bila basah) dan mengerut (bila kering). Akibatnya pada musim kering karena tanah mengerut maka terjadi pecah-pecah. Sifat mengembang dan mengerutnya tanah disebabkan oleh kandungan mineral liat montmorillonit yang tinggi. Besarnya pengembangan dari pengerutan tanah dinyatakan dalam nilai COLE (Co efficient Of Linear Extensibility) atau PVC (Potential Volume Change = Swell Index = indeks pengembangan). Istilah COLE banyak digunakan dalam bidang ilmu tanah (pedology) sedang pvc digunakan dalam bidang engineering (pembuatan jalan, gedung-gedung dan sebagainya).

Lm       = panjang contoh tanah lembab

Ld       = panjang contoh tanah kering oven

Atau

Dbd     = bulk density tanah kering oven

Dbm    = bulk density tanah lembab

Pentingnya nilai COLE:

  • Jika COLE > 0,09 menunjukkan bahwa tanah mengembang dan mengerut dengan nyata, kandungan montmorillonit tinggi.
  • Jika COLE > 0,03 menunjukkan bahwa didalam tanah ditemukan mineral liat montmorillonit agak tinggi.

10.  Kematangan Tanah

Nilai-n (n-value) merupakan nilai untuk menunjukkan tingkat kematangan tanah. Tanah yang belum matang adalah tanah-tanah yang seperti lumpur cair sehingga bila tanah diremas akan mudah sekali keluar dari genggaman melalui sela-sela jari.

Nilai-n dapat dihitung dengan rumus berikut.

A         = kadar air tanah dalam keadaan lapang

R          = persen debu + Pasir

L          = persen liat

H         = persen bahan organic (% C x 1,724)

n > 1                mentah, tanah encer seperti bubur, mudah lewat disela-sela jari kalau diperas. Tanah selalu jenuh air. Kemampuan menyangga beban sangat rendah, penyusutan besar.

n = 0,7-1          agak matang. Tanah agak sulit lewat sela-sela jari bila diperas. Selalu jenuh air.

n 0,7                matang, tanah tidak dapat lewat sela-sela jari bila diperas. Kelembaban tanah kadang-kadang kurang dari kapasitas lapang.

11.  Sifat-sifat lain

Untuk dapat menentukan kesesuaian tanah bagi bermacam-macam penggunaan maka disamping sifat-sifat tanah yang telah diuraikan di muka, perlu diamati pula sifat-sifat tanah lain serta keadaan lingkungannya, misalnya:

1. Keadaan batuan

Terdapatnya batu-batu baik di permukaan tanah maupun di dalam tanah dapat mengganggu perakaran tanaman serta mengurangi kemampuan tanah untuk berbagai penggunaan. Karena itu jumlah dan ukuran batuan yang di temukan perlu dicatat dengan baik.

2. Padas(pan)

Padas merupakan bagian tanah yang mengeras dan padat sehingga tidak dapat ditembus akar tanaman ataupun air. Karena itu dalam penyifatan tanah di lapang dalamnya padas dan kekerasannya perlu diteliti.

3. Kedalaman efektif

Kedalaman efektif adalah kedalaman tanah yang masih dapat ditembus akar tanaman. Pengamatan kedalaman efektif dilakukan dengan mengamati penyebaran akar tanaman. Banyaknya perakaran, baik akar halus maupun akar kasar, serta dalamnya akar-akar tersebut dapat menembus tanah perlu diamati dengan baik.

4. Lereng

Keadaan lingkungan di luar solum tanah yang sangat besar pengaruhnya terhadap kesesuaian tanah (lahan) untuk berbagai penggunaan adalah lereng. Makin curam lereng kesesuaian lahan makin berkurang. Pada umumnya dianggap bahwa kemiringan lereng yang lebih dari 30% tidak cocok lagi untuk tanaman pangan. Lereng dapat berbentuk cembung, cekung atau rata dengan panjang yang berbeda.

Daftar Pustaka

Bahan kuliah dasar-dasar ilmu tanah oleh ir.Ajidirman.MP

Hardjowigeno, sarwono. 2010. Ilmu Tanah. Jakarta. Akademika pressindo

http://aditya-pandhu.blogspot.com/2010/03/proses-pembentukan-faktor-dan-jenis.html

http://id.shvoong.com/exact-sciences/agronomy-agriculture/2064228-bahan-penyusun-tanah/

http://id.wikipedia.org/wiki/Tanah

http://llmu-tanah.blogspot.com/2011/12/tekstur-tanah.html

http://jurnal-geologi.blogspot.com/2010/02/tanah-dan-pelapukan-biologi.html

http://noviaanggra.wordpress.com/2012/05/21/sifat-siat-fisik-dan-sifat-morfologi-tanah/

http://pustakabiolog.wordpress.com/2011/09/03/profil-tanah/

http://samrumi.blogspot.com/2011/03/proses-pembentukan-tanah.html

1 Komentar (+add yours?)

  1. Florentino Paris
    Des 01, 2012 @ 18:26:07

    Hello Web Admin, I noticed that your On-Page SEO is is missing a few factors, for one you do not use all three H tags in your post, also I notice that you are not using bold or italics properly in your SEO optimization. On-Page SEO means more now than ever since the new Google update: Panda. No longer are backlinks and simply pinging or sending out a RSS feed the key to getting Google PageRank or Alexa Rankings, You now NEED On-Page SEO. So what is good On-Page SEO?First your keyword must appear in the title.Then it must appear in the URL.You have to optimize your keyword and make sure that it has a nice keyword density of 3-5% in your article with relevant LSI (Latent Semantic Indexing). Then you should spread all H1,H2,H3 tags in your article.Your Keyword should appear in your first paragraph and in the last sentence of the page. You should have relevant usage of Bold and italics of your keyword.There should be one internal link to a page on your blog and you should have one image with an alt tag that has your keyword….wait there’s even more Now what if i told you there was a simple WordPress plugin that does all the On-Page SEO, and automatically for you? That’s right AUTOMATICALLY, just watch this 4minute video for more information at. Seo Plugin

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: