2012 in review

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2012 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

4,329 films were submitted to the 2012 Cannes Film Festival. This blog had 15.000 views in 2012. If each view were a film, this blog would power 3 Film Festivals

Click here to see the complete report.

KEINDAHAN DAN KEBURUKAN

KEIDAHAN DAN KEBURUKAN

A. KEINDAHAN DAN ESTETIKA

1. Konsep Keindahan
Keindahan berasal dari kata “indah”, yang dapat diartikan bagus, cantik, elok, yaitu sifat yang menenangkan, menarik perhatian, dan tidak membosankan yang melekat pada suatu objek. Objek tersebut berbentuk konkret, dapat berupa benda atau suatu keadaan. Melalui pancaindra unsur dalam diri manusia berkomunikasi dengan objek konkret tersebut.
Pancaindra yang menghubungkan unsur rasa dengan objek dapat berupa indra penglihatan jika objek berubah benda, misalnya setangkai bunga mawar; indra pendengaran jika objek itu berupa ciptaan lagu, misalnya lagu “Tuhan” ciptaan Bimbo; indra penciuman jika objek berupa bau, misalnya parfum yang harum; atau indra perasa jika objek berupa suatu keadaan tertentu, misalnya angin bertiup sepoi-sepoi.
Indah merupakan konsep konkret hasil tanggapan terhadap suatu objek. Tanggapan merupakan proses penilaian berdasarkan “unsur budaya; rasa” dalam diri penilaian terhadap suatu objek yang berupa benda, ciptaan, perbuatan, atau keadaan. Hasil tanggapan disebut nilai yang kualitasnya menyenangkan atau tidak membosankan. Dengan kata lain, indah adalah sifat suatu objek yang kualitasnya menyenangkan atau tidak membosankan.
Indah dalam bahasa Yunani disebut aesthesis. Diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi estetis, yang artinya sifat indah, yaitu nilai kualitas dari objek tertentu. Jadi, suatu objek dikatakan indah apabila menarik perhatian dan tidak membosankan bagi orang yang melihat, mendengarkan, atau mengalaminya.
2. Estetis dan Estetika
Ilmu yang mengkaji tentang sifat suatu objek estetis disebut estetika. Estetika merupakan bagian dari kajian ilmu filsafat yang membahas suatu aspek keindahan, yaitu mengenai rasa, sifat, norma, dan cara membandingkannya dengan menggunakan penilaian perasaan.

Atas dasar pengertian tersebut, objek estetika meliputi:
a. Rasa keindahan (sense of beauty)
b. Sifat keindahan (nature of beauty)
c. Norma keindahan (norms of beauty)
d. Cara menanggapi keindahan (way of sensing beauty)
e. Cara membandingkannya (way of comparing beauty)
Jadi, suatu itu dikatakan indah apabila memiliki sifat berikut:
a. Menyenangkan (happy)
b. Menggembirakan (cheerful)
c. Menarik perhatian (attractive)
d. Tidak membosankan (unboring)
Selain objek yang melekat pada diri manusia (internal objects), ada pula objek yang diluar diri manusia (external objects) berupa ciptaan manusia dan ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa:
a. Ciptaan manusia, yaitu produk budaya sebagai pantulan rasa keindahan pada diri manusia yang bersifat relatif karena terbatas oleh tempat dan waktu. Misalnya mode pakaian, lukisa, dan bangunan rumah.
b. Ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa, yaitu produk kekuasaan Tuhan yang bersifat mutlak karena diakui oleh semua orang. Misalnya pemandangan (landscape), kecantikan (beauty), dan kenikmatan suami istri (sexual pleasure).

3. Sifat Keindahan

a. Keindahan itu kebaikan
Sifat keindahan (nature of beauty) bersumber dari dalam diri manusia secara alamiah, yang mempertimbangkan bahwa keindahan itu adalah sifat yang dibenarkan oleh akal sehat. Sifat keindahan itu adalah kebaikan (goodness), yang artinya setiap suatu yang indah pasti menyenangkan dan tidak membosankan. Apabila sifat keindahan itu dijadikan norma untuk mengapresiasikan suatu objek pada diri manusia, yang dirasakan adalah sikap, perilaku, tutur bahasa, serta cara berbusana orang itu menyenangkan dan tidak membosankan orang yang melihat dan bergaul dengannya.
b. Keindahan itu keaslian
Selain sifat keindahan yang telah disebutkan tadi, ada pula sifat keaslian (originality), artinya objek itu asli/bukan tiruan. Setiap objek yang asli selalu memiliki keindahan, artinya menyanangkan dan tidak membosankan orang yang melihatnya. Misalnya, lukisan Monalisa yang asli memiliki keindahan tersendiri. Tetapi lukisan Monalisa tiruan tidak memiliki keindahan (keburukan) karena ditiru dari yang asli.
c. Keindahan itu keabadian
Sifat keindahan itu adalah abadi (durability), artinya tidak pernah dilupakan, tidak pernah hilang, atau susut. Karya musik Beethoven tidak pernah dilupakan orang karena keindahannya itu abadi. Suatu objek yang memiliki keindahan yang abadi bersifat menyenangkan dan tidak membosankan itu tidak pernah hilang atau tidak susut. Jika dilupakan orang, itu berarti tidak memiliki keindahan (keburukan).
d. Keindahan itu kewajaran
Sifat keindahan itu juga disebut wajar (properlines), artinya tidak berlebihan dan tidak pula kekurangan, menurut apa adanya. Misalnya suatu foto berwarna dicetak lebih indah dari warna aslinya justru menimbulkan keburukan karena berlebihan.
e. Keindahan itu kenikmatan
Sifat keindahan juga disebut nikmat (pleasure), artinya kesenangan yang memberi kepuasan. Misalnya, menonton pertunjukan tari-tarian yang memberikan kesenangan dan kepuasan adalah keindahan. Sebaliknya, menonton pertunjukan tari-tarian yang tidak menyenangkan dan tidak memuaskan adalah keburukan.
f. Keindahan itu kebiasaan
Sifat keindahan itu juga disebut biasa (habit), artinya dilakukan berulang-ulang. Hal yang tidak biasa menjadi kebiasaan jika dilakukan berulang-ulang. Hal yang tidak biasa itu buruk, tetapi karena dilakukan berulang-ulang lalu menjadi kebiasaan, dan kebiasaan itu keindahan, artinya menyenangkan dan tidak membosankan. Misalnya, Malin dalam upacara perkawinan dengan Fatimah tidak mau memakai pakaian adat Minang Kabau, karena dia terbiasa dengan pendidikan dan berpakaian ala barat.
Menurut Coleridge (1772-1834) seorang penyair romantik, keindahan dapat dipengaruhi oleh kebiasaan. Kebiasaan mempunyai akibat terhadap daya tangkap suatu objek. Suatu objek yang tidak berarti dapat berubah menjadi berarti karena kebiasaan, misalnya merokok. Suatu objek yang buruk dapat menjadi indah karena terbiasa. Akan tetapi kebiasaan jangan sampai pula mengubah konsep keindahan.
g. Keindahan Itu Relatif
Sifat keindahan disebut relatif (relative), artinya terikat dengan selera perseorangan, waktu, dan tempat. Mode busana memiliki keindahan yang bersifat relatif, karena terikat dengan selera perseorangan dalam kurung waktu tertentu dan tempat tertentu pula. Oleh karena itu, setiap objek tidak memiliki sifat kebaikan, keaslian, keabadiaan, dan kebiasaan, yang meiliki sifat keindahan. Sifat keindahan suatu objek selalu menyenangkan dan tidak membosankan, dan dibatasi oleh selera perseorangan, waktu, dan tempat.

B. KEINDAHAN DAN KEBUDAYAAN

1. Hubungannya dengan Kebudayaan
Dalam hal keindahan, terdapat hubungan antara estetis dan kebudayaan. Estetis adalah rasa yang terdapat dalam diri manusia sebagai unsur budaya, sedangkan kebudayaan adalah pantulan dari estetis dalam diri manusia, baik berupa sikap dan perilaku, maupun karya cipta. Dengan kata lain, kebudayaan memiliki rasa keindahan dan karenanya budaya itu menyenangkan dan tidak membosankan. Kebudayaan tentu membahagiakan manusia, karena manusia akan bersikap sopan santun dan saling menghargai satu sama lain dalam hidup bermasyarakat di dalam budaya tersebut.
Keindahan yang terdapat pada diri manusia dipantulkan melalui perilaku, tutur kata, dan cara berpakaian dalam hidup bermasyarakat. Sikap dan perilaku yang baik terhadap orang lain, dapat diterima secara wajar karena memiliki rasa keindahan. Apabila ini dilakukan terus menerus sebagai kebiasaan (membudaya), dapat disebut keindahan sebagai manifestasi budaya dan suatau sifat asli pada diri manusia (bukan tiruan).
2. Keindahan dalam Kebudayaan
Apabila dalam diri manusia sudah terbiasa berkembang rasa keindahan, setiap wujud penampilannya selalu menyenangkan dan tidak membosankan. Apabila rasa keindahan ini dipantulkan pula pada karya cipta sebagai kebudayaan, karya cipta orang itu dikatakan baik.
Dengan demikian, dalam kebudayan itu terdapat keindahan yang senantiasa dipelihara pelestarian dan kelangsungannya. Misalnya, tutur bahasa, kerapian cara berpakaian, atau kemegahan bangunan. Jika kebudayaan itu berupa penampilan, orang yang melihat berkeinginan menampilkannya, serta memelihara kelangsungannya karena baik dan bagus. Misalnya, mode pakaian. Sebaliknya, jika dirasakan tidak baik orang akan meninggalkannya dan tidak mau memeliharanya lagi karena dirasakan ketinggalan jaman. Jadi, keindahan itu menentukan kelestarian dan kelengsungan suatu kebudayaan.
Peribahasa mengatakan bahwa “bahasa menunjukkan bangsa, budi bahasa menunjukkan status”. Bahasa merupakan alat komunikasi dalam masyarakat. Makin halus dan sopan tutur bahasa seseorang, makin tinggi dan terhormat statusnya di mata masyarakat. Bahasa yang halus dan sopan hanya dipakai oleh orang terhormat (Ningrat). Dengan kata lain, bahasa adalah manifestasi budaya yang menggunakan bahasa halus dan sopan adalah orang yang berbudaya/beradab sebagai manifestasi peradabannya.

C. KEINDAHAN DAN KARYA CIPTA

1. Kontemplasi dan Ekstasi
Keindahan dapat dinikmati melalui selera seni atau selera biasa. Keindahan melalui selera seni didasari oleh faktor kontemplasi (contemplation) dan faktor ekstasi (ecstasy). Dalam kamus Inggris-Indonesia oleh John M. Echols dan Hassan Shadily (1995), kontemplasi menurut arti kata adalah perenungan, pemikiran, dan penatapan dengan sesuatu dengan kata lain kontemplasi adalah dasar dalam diri manusia untuk menciptakan sesuatu yang indah. Ekstasi menurut kata adalah kegembiraan luar biasa mengenai sesuatu. Dengan kata lain ekstasi adalah dasar dari dalam diri manusia untuk merasakan dan menikmati sesuatu yang indah.
Apabila kedua dasar tersebut dihubungkan dengan objek diluar diri manusia, akan terjadi penilaian bahwa objek itu indah. Objek diluar diri manusia itu berupa karya budaya ciptaan manusia, antara lain lukisan, tarian, nyanyian, sinetron, mode busana, tata letak, dan bangunan rumah. Atau karya ciptaan Tuhan antara lain pemandangan alam bunga warna-warni dan wanita cantik.
Apabila dihubungkan dengan kreatifitas, kontemplasi merupakan faktor pendorong untuk menciptakan sesuatu yang indah, sedangkan ekstasi merupakan faktor pendorong untuk merasakan dan menikmati sesuatu yang indah. Karena derajat kontemplasi antara manusia yang satu dengan yang lainnya, maka tanggapan terhadap keindahan juga berbeda. Mungkin orang yang satu mengatakan karya budaya itu indah tapi yang lainnya ada juga yang mengatakan tidak.
2. Keindahan , Keserasian, kehalusan
Dalam diri manusia terdapat faktor kontemplasi dan ekstasi. Oleh karena itu, keindahan merupakan sifat alami manusia. Dalam keindahan tercermin unsur keserasian dan kehalusan. Keserasian adalah kemampuan menata sesuatu yang dapat dinikmati orang lain karena indah. Keserasuian itu dikatakan indah karena cocok dengan keterpaduan beberapa kualitas. Misalnya, kemampuan menata dekorasi dalam rumah, rias pengantin, cara berpakaian, ataupun taman dengan aneka warna bunga. Oleh karena itu, dapat dinyatakan bahwa keserasian pada dasarnya dadlah sejumlah kualitas yang terdapat pada suatu penataan.
Kehalusan adalah kemampuan menciptakan sikap, perilaku, ataupun cara berbusana yang menyenangkan. Kehalusan itu dikatakan indah karena lemah lembut, rendah hati, dan sopan santun. Misalnya dalam pergaulan hidup bermasyarakat, tidak bersikap sombong, menanggapi dengan sabar, dan tidak emosi. Dalam kehalusan itu terdapat keterpaduan beberapa kualitas dalam penampilan yang menyenangkan orang lain. Oleh karena itu, dapat dinyatakan bahwa kehalusan pada dasarnya adalah sejumlah nilai moral dan estetis yang terdapat pada seseorang. Nilai moral dan estetis adalah kebaikan,dan kebaikan itu adalah keindahan.
3. Kreativitas dan Karya Cipta
Keindahan adalah bagian kehidupan manusia yang merupakan kebutuhan kodrati. Karena itu manusia berusaha menciptakan keindahan. Untuk memenuhi kebutuhan akan keindahan, manusia berkreativitas menghasilkan karya cipta yang didasari oleh pengalaman hidup yang terjadi dalam masyarakat. Pengalaman atau kenyataan tersebut menjadi bahan renungan atau penilaian untuk menentukan apakah objek itu berupa hal yang indah atau buruk.
Pengungkapan keindahan dan keburukan dalam karya cipta didasari motivasi tertentu dan tujuan tertentu. Tujuannya dapat dinilai dari kehidupan manusia, martabat manusia, dan manfaatnya secara kodrati.
a. Nilai dan sistem nilai yang sudah usang
Nilai dan sistem budaya adat istiadat sudah tidak sesuai lagi dengan keadaan menjadi hambatan kemajuan dan mengorbankan nilai kemanusiaan. Tata nilai ini dipandang sebagai kurangnya nilai moral kehidupan masyarakat, sehingga dipandang sebagai keburukan dan perlu diubah menjadi keindahan.
b. Kemerosotan moral
Keadaan yang merendahkan derajat dan nilai kemanusiaan ditandai oleh kemerosotan moral. Hal ini dapat diketahui dari tingkah laku dan perbutan manusia bejat, terutama dari segi kebutuhan seksual. Kebutuhan seksual dipenuhi tanpa menghiraukan ketentuan hukum, agama, serta moral masyarakat. Hal ini merupakan keburukan yang perlu dirubah.
c. Penderitaan manusia
Faktor yang menyebabkan manusia menderita adalah faktor manusiaa itu sendiri. Manusialah yang menyebabkan manusia lain menderita karena nafsu kekuasaan, keserakahan, ketidakhati-hatian, dan sebagainya. Keadaan yang demikian ini merupakan keburukan yang menimbulkan kebencian, pengumpatan, kebosanan, dan penderitaan.
d. Diskriminasi etnis atau asal-usul
Dalam kehidupan bernegara atau berpolitik, manusia memperoleh perlakuaan yang berbeda, karena asal-usul atau etnisnya berlainan. Contohnya, orang yang berhak menjadi Presiden Republik Indonesia hanyalah orang Indonesia asli. Maka orang Indonesia tidak asli yang disebabkan karena keturunan, misalnya keturunan asing tidak berhak menjadi Presiden Republik Indonesia. Ketentuan seperti ini merupakan diskriminasi, suatu hal yang merupakan keburukan dan harus diubah menjadi keindahan.

e. Keagungan Tuhan
Keindahan alam merupakan keindahan mutlak ciptaan Tuhan. Manusia hanya dapat meniru ciptaan Tuhan, tetapi keindahan tiruan terhadap ciptaan Tuhan, tidak akan seindah ciptaan Tuhan itu sendiri.

4. Pengaruh Keindahan Pada Jiwa Manusia
Keindahan dapat meresap kedalam jiwa manusia apabila dihayati. Untuk itu perlu dilakukan berbagai pendekatan terhadap keindahan. Melalui berbagai pendekatan, akan dapat dirasakan pengaruh keindahan terhadap jiwa manusia. Pengaruh tersebut akan terwujud dalam bentuk kehalusan sikap, tingkah laku, dan perbuatan manusia. Apabila melihat pemandangan alam yang indah, manusia akan mengagumi keindahan itu dan akan mengagumi pula siapa gerangan pencipta alam ini. Dengan demikian, akan terkenang keagungan Tuhan, dan karena kuasa-Nya itulah dapat dinikmati. Hal ini akan berpengaruh pada kehalusan jiwa dan ketengaan batin.
Semua orang menginginkan keindahan. Keindahan tersebut antara lain terdapat dalam kerapian dan keselarasan berpakaian. Hal ini membuat orang lain kagum melihatnya, sehingga terungkap kata cantik, ganteng, tampan, dan sebagainya. Dibalik semua itu tersimpul harga diri, kenikmatan, kehalusan, dan kebersihan jiwa.
Menikmati karya cipta khususnya karya seni budaya mempunyai pengaruh yang kuat terhadap jiwa manusia. Kehalusan yang diungkapkan para seniman dalam karya cipta mereka akan berpindah pula kepada orang yang menikmatinya. Oleh karena itu, dengan karya cipta khususnya karya seni budaya dapat dibina kehalusan jiwa. Kehalusan jiwa menjadi cermin budi pekerti yang baik.

BUDIDAYA TANAMAN AGRONOMI

MAKALAH

DASAR-DASAR AGRONOMI

Budidaya Tanaman Agronomi

Kelompok 4

                                    MUHAMMAD FAISAL SITORUS             D1B0110

                                    NOVIA ANJANI                                           D1B011027

                                    RESTI DESPERINA PUTRI                                    D1B0110

AGRIBISNIS

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS JAMBI

2012

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Allah SWT karena telah memberikan rahmat dan nikmatnya- nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Dasar-dasar Agronomi ini dangan baik. Makalah ini membahas tentang TEKNIK BUDIDAYA TANAMAN AGRONOMI. Tim penyusun mengharapkan agar nantinya makalah ini dapat memberikan manfaat kepada pembaca. Kami sadar bahwa makalah ini banyak memiliki kekurangan dan belum dapat dikatakan sempurna, oleh karena itu kami selaku tim penyusun mengharapkan kritik dan saran yang sekiranya dapat membantu penyempurnakan makalah ini agar laporan ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua, amin.

                                                                                                              Kelompok 4

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah. Sumber daya tersebut akan sia-sia apabila tidak dimanfaatkan secara potensial. Sumber daya potensial tidak hanya berasal dari sumber daya alam, tetapi juga berasal dari sumber daya manusia. Sumber daya manusia yang dibutuhkan tidak harus berkuantitas besar, tetapi juga harus memiliki kualitas tinggi. Oleh karena itu, apabila kedua sumber daya potensial ini digabungkan maka akan dapat mengembangkan pertanian Indonesia.

Pertanian merupakan tulang punggung perekonomian. Pertanian mensuplai bahan pangan, bahan baku industry, dan tekstil. Peran pertanian dalam mensuplai bahan pangan sangat besar. Dalam suplai bahan pangan ini, komoditas hortikultura berperan relatif besar.

B. Tujuan

a.   mahasiswa dapat mengetahui dan memahami pengertian agronomi

b. mahasiswa dapat mengetahui dan memahami apa saja hal yang perlu       diperhatikan dalam teknik bududaya tanaman agronomi

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Agronomi dapat diistilahkan sebagai produksi tanaman, dan diartikan suatu usaha pengelolaan tanaman dan lingkungannya untuk memperoleh hasil sesuai tujuan. Ada dua tujuan, yaitu memaksimalkan output atau meminimalkan input agar kelestarian lahan tetap terjaga.

Pada awal kehidupan manusia di bumi, hanya hidup dari mencari makan dari hasil hutan secara langsung. Perkembangan berikutnya, semakin banyak anggota kelompoknya, lalu ada tempat untuk menetap dan mulai bercocok tanam di lahan sekitar tempat tinggalnya dan mulai memelihara ternak dan terbentuklah pekarangan.

Setelah itu, berkembang untuk membuka lahan di hutan untuk bercocok tanam, sehingga hanya dapat ditanami beberapa tahun lalu pindah tempat, sering dikenal dengan lahan berpindah.

Semakin bertambahnya penduduk, sistem-sistem tersebut tidak dapat dipertahankan, lalu berusaha untuk tetap mempertahankan tingkat kesuburan tanahnya dan mulai dikenal teknik budidaya (agronomi).

Agronomi sebagai cabang ilmu-ilmu pertanian yang mencakup pengelolaan lapang produksi dan menghasilkan produksi maksimum. Setyati (1982) Ilmu Agronomi merupakan ilmu yang mempelajari cara pengelolaan tanaman pertanian dan lingkungannya untuk memperoleh produksi maksimum. Produksi maksimum bermakna baik kuantitatif maupun kualitatif.

Pengelolaan dilakukan pada berbagai tingkatan dari sederhana sampai maju, dan pada saatnya tingkat efektivitas dan efisiensi temyata dipengaruhi oleh tingkat budaya manusianya

BAB III

PEMBAHASAN

Agronomi merupakan istilah yang tidak asing lagI di bidang pertanian. Istilah itu belakangan ini diartikan sebagai usaha dalam membudidayakan tanaman-tanaman pertanian atau sering disebut dengan budidaya pertanian. Dalam membudidayakan tanaman yang di dasar ialah produksi yang tinggi baik mutu maupun jumlahnya.

Menanam tanaman budidaya pada hakekatnya adalah memberikan lingkungan yang terbaik bagi tanaman sehingga dapat tumbuh dan berkembang serta berproduksi secara baik. Beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah :

1. Iklim

2. Tanah

3. Bibit

4. Penanaman

5. Pemeliharaan tanaman, yang meliputi :

- Penyiangan/Pembumbunan

- Pemupukan

- Penyiraman

- Pengendalian hama dan penyakit

- Pemangkasan

  1. 1.     Iklim

Untuk menanam tanaman, sebaiknya harus diperhatikan iklim apa yang sesuai bagi jenis tanaman yang akan ditanam tersebut. Kalau terpaksa harus menanam di luar musim, maka harus dicari suatu upaya pencegahan terhadap   kegagalan yang mungkin akan terjadi karena faktor iklim tersebut.

Faktor iklim yang berpengaruh diantaranya adalah suhu, sinar matahari, curah hujan, kelembaban udara, angin. Suhu dapat mempengaruhi perkembangan tanaman. Sinar matahari merupakan sumber energi yang berguna dalam proses fotosintesis. Sinar matahari yang terpenting adalah panjang penyinaran dan intensitasnya. Curah hujan yang utama adalah banyaknya hari hujan dan lebatnya curah hujan. Kelembaban udara penting diketahui karena dengan demikian petani dapat memperhitungkan atau dapat mengetahui kapan saat tanaman dapat dipanen atau kapan harus diwaspadai adanya serangan jamur. Sedangkan angin merupakan pelaku utama yang berperan pada proses penguapan dan penyerbukan.

  1. 2.     Tanah

Setelah dipilih lokasi yang bakal dipakai sebagai lahan pertanaman, maka tahap berikutnya adalah pelaksanaan pengolahan tanah. Pengolahan tanah bertujuan: untuk menyediakan lahan agar siap bagi kehidupan tanaman dengan meningkatkan kondisi fisik tanah. Karena tanah merupakan faktor lingkungan yang mempunyai hubungan timbal balik dengan tanaman yang tumbuh padanya. Faktor lingkungan tanah meliputi : Faktor fisik (air, udara, struktur tanah serta suhu), Faktor kimiawi (kemampuan tanah dalam menyediakan nutrisi), Faktor biologis (makro/mikro flora dan makro/mikro fauna).

Pelaksanaan pengolahan tanah pada prinsipnya adalah tindakan pembalikan, pemotongan, penghancuran, dan perataan tanah. Struktur tanah yang semula padat diubah menjadi gembur, sehingga sesuai bagi perkecambahan benih dan perkembangan akar tanaman. Bagi lahan basah sasaran yang ingin dicapai adalah lumpur halus, yang sesuai bagi perkecambahan benih dan perkembangan akar tanaman.

Pengolahan tanah melihat jenis tanaman yang akan ditanam, apabila perakarannya dangkal maka pengolahan tanah cukup sedalam + 25 cm, tetapi apabila tanaman berupa pohon maka perlu disiapkan lubang tanamnya terlebih dahulu. Selain itu pengolahan tanah juga harus memperhatikan sifat dan atau kondisi tanah tersebut.

Apabila lahan yang akan ditanami berupa lahan miring, maka terlebih dahulu perlu dibuat terasering, yang umumnya dibentuk mengikuti garis tinggi (contour). Teras dapat diperkuat dengan tanaman pupuk hijau, yang selain dapat meningkatkan kesuburan tanah juga dapat mencegah erosi.

Untuk tanah datar yang terpenting untuk mendapatkan perhatian adalah kesarangan dan kesuburan tanah (sifat fisik dan kimiawi tanah). Berbagai perlakuan dapat dijalankan untuk memelihara kondisi tanah, antara lain dengan pemupukan, pemulsaan, pengolahan tanah, dan sebagainya.

  1. 3.     Bibit

Benih (seed) adalah biji yang dipakai sebagai alat perkembangbiakan. Sedangkan bibit (seedling) adalah benih yang telah berkecambah. Tergantung dari cara perbanyakannya, tanaman dapat diperbanyak dengan benih ataukah bibit.

Pengadaan benih yang baik :

1. Benih harus tersedia tepat pada waktunya, dengan jumlah sesuai yang dibutuhkan

2. Bermutu tinggi, murni sifat genetiknya, tidak tercampur benih varietas lain

3. Tidak tercampur gulma, kotoran, dan bibit penyakit

4. Harus mempunyai daya kecambah dan daya tumbuh yang tinggi

Daya kecambah                  : minimal 80%

Benih murni                        : minimal 95%

Benih varietas lain              : maksimal 5%

Kotoran                              : maksimal 2%

Benih rumputan                  : maksimal 2%

Adakalanya sebelum ditanam di tempat yang tetap, benih disemaikan terlebih dahulu. Dengan demikian yang ditanam di kebun  berupa bibit yang sudah cukup kuat. Pesemaian sebaiknya dibuat dekat dengan tempat tanamnya agar mudah dalam pengangkutannya ke lapang. Beberapa persyaratan cara pelaksanaan pesemaian yang baik adalah :

1. Yang disemaikan biasanya tanaman yang lemah, tidak kuat kalau langsung ditanam di tempat yang tetap

2. Tempat menyemai berupa bedengan khusus, diberi atap peneduh untuk   mencegah   curahan hujan jangan sampai merusak benih yang masih lemah

3. Tanah pesemaian harus subur dan gembur

4. tempat pesemaian harus aman dari gangguan binatang

5. Penyiraman dilakukan dengan menggunakan gembor

6. Sebaiknya tanaman baru dipindahkan ke tempat penanamannya di lapang setelah cukup kuat

7. Ada baiknya apabila bibit terlebih dahulu dipindahkan ke polibag, menunggu saat ditanam di tempat penanamannya

8. Tanaman muda yang baru dipindah perlu diberi pelindung.

Cara Pemindahan Bibit

            Dikenal 3 cara pemindahan bibit, yaitu :

1. Cara Cabutan

- Sebelum dicabut pesemaian dibasahi

- Dipilih bibit yang bagus, dicabut satu per satu dengan hati-hati, dijaga agar akar tidak putus

- Bibit tersebut harus segera ditanam, jangan menunggu layu

- Untuk mengurangi penguapan, sebelum ditanam biasanya dilakukan pengupiran daun

Misal : Tanaman sayuran, buah, tanaman hias

2. Cara Putaran

- Tanaman beserta tanah yang melekat pada perakarannya digali

- Dipindahkan ke polibag/keranjang bambu/pelepah pisang

- Jika sudah kuat bisa segera ditanam di lapang

Misal : Jeruk, Rambutan

3. Cara Potongan

- Bibit digali, kemudian sebagian dari batang dan akarnya dipotong, baru kemudian ditanam

- Lebih mudah pada saat memindahkannya

- Kerusakan akar bisa dikurangi

- Mudah pengangkutannya

Untuk bibit sebaiknya digunakan bibit yang terpilih dengan kualitas baik. Pembibitan dapat dilakukan sendiri , tetapi bibit juga bisa dibeli dari tempat penjual bibit. Benih atau bibit yang digunakan sebaiknya yang mempunyai sifat unggul.

 

Bibit Unggul

Yang dimaksud dengan bibit unggul oleh penyuluh-penyuluh, sesungguh adalah varietas unggul. Setelah mempelajari pengertian varietas pertanian dalam bab IV dan V, maka tahulah kita bahwa untuk berbagai jenis tanaman berbeda artinya, tergantung cara penyerbukanny. Unggul disini dimaksudkan memiliki banyak sifat-sifat agronomi yang unggul dibandingkan dengan varietas lain, walupun salah satu sifat mungkin bahkan kalah (misal rasa atau ketahanan terhadap salah satu penyakiat), sehingga pada keadaan umum hasil produksinya tinggi. Karena varietas-varitas selalu mengalami evolusi, baik dari pemulia nasional maupun adanya introduktif baru, tidak perlulah suatu varietas yang pada suatu waktu unggul, akan selalu unggul sepanjang masa (contoh klon-klon POJ pada tebu,var, Mas pada padi dan lain-lain yang merupakan varietas –varietas unggul sebelum perang).

Berarti kita harus terbuka untuk selalu menerima varietas baru yang telah teruji. Dalam usaha-usaha penyuluhan, sering banyak ditemui kesukaran dalam introduksi dalam introduksi varietas unggul baru, karena petani telah mengenal sesuatu varietas unggul yang menurut mereka tidak mungkin terkalahkan, dan belum percaya pada varietas baru. Dalam hal ini perlu diadakan demonstrasi-demonstrasi plot dulu, sesudah percobaan-percobaan adaptasi kultur tekniknya. Hal terkhir tak boleh dilewatkan, karena kadang-kadang varietas unggul baru mempunyai syarat-syarat budidaya yang berlainan dengan yang lama (lihat Gambar 43). Disamping itu, karena masih selalu ada salah satu kekurangan pada varietas unggul baru (misal resistensi terhadap sesuatu hama/penyakit yang dulu minor didaerah seleksi asalnya, rasa yang berbeda dengan selera setempat dan sebagainya), pemulia harus juga selalu berusaha menciptakan varietas baru.

Dalam hal tanaman hias dan bunga, penciptaan varietas baru harus menjadi mode, dan bukan hanya produksi tinggi yang dituju, melainkan keunikan atau keeksotikan.

Keunggulan sifat kadang-kadang dinyatakan pada salah satu komponen hasil ataupun hasil akhir, kadang-kadang juga pada mutu atau kandungan zat gizi maupun hanya pada kegenjahan atau ketahanannya pada hama/ penyakit atau kekeringan. Secara total keistimewaan sesuatu varietas unggul tentu pada daya produksinya di sesuatu daerah tertentu.

Kembali pada istilah bibit unggul, perlu ditekankan pengertian benih bermutu baik, maupun bibit bermutu baik dari varietas unggul tersebut. Kesadaran akan mutu baik dari benih maupun bibit perlu dibangun untuk menghargai jerih paya pemulia-pemulia yang telah sanggup menciptakan varietas unggul baru.

Dalam hal varietas unggul, perlu diperhatikan cara-cara mempertahankan kemurnian varietas (dengan isolasi waktu dan isolasi tempat untuk varietas-varietas yang menyerbuk silang, atau dengan isolasi fisik). Dengan cara-cara kultur teknik biasa, untuk menyerbuk silang, setelah bibit mencapai generasi ketiga, lebih baik membeli benih lagi yang masih murni, dari penjual benih yang baik dan benih telah disertifikasi. Demikian pula untuk benih-benih Hibrid yang mahal (kubis, sweetcorn, tomat,semangka tanpa biji), benih tidak perlu dipakai terus sesudah generasi kedua. Untuk varietas-varietas Inbred seperti pada jagung, bila kemurnia dapat dipertahankan terus, intuk memulihkan vigor perlu disilangkan kembali dengan Inbred lain.

  1. 4.     Penanaman

Apabila lahan sudah siap, maka bibit dapat segera ditanam. Yang perlu diperhatikan dalam penanaman adalah  waktu tanam dan jarak tanam. Waktu tanam berkaitan erat dengan iklim. Ada tanaman yang cocok ditanam di musim penghujan, tetapi ada yang lebih baik bila ditanam di musim kemarau. Penanaman di luar musim (off  season) dapat dilakukan dengan meningkatkan pemeliharaan dan perawatannya.

Di musim hujan air berlebihan dan ditanah-tanah sawah tidak banyak tanaman yang baik ditanam, kecuali padi. Sedang pada musim hutan tersebut, di tanah-tanah kering, walaupun suplai tanah air baik untuk banyak tanaman, akan tetapi cuaca yang lembab dan matahari jarang bersinar menyebabkan banyak serangan penyakit. Di musim kemarau, serangan hama lebih banyak mengancam, disamping terlalu sedikitnya suplai air, bahkan kadang-kadang kekeringan mengancam.

Bila pemilihan saat tanam telah tepat dan persiapan tanah telah dilakukan sebaik-baiknya (telah mengalami pembajakan, penggaruan dan pencangkulan dengan intensitas sesuai dengan sifat-sifat tanah), maka hal yang perlu ditentukan adalah jarak tanam.

Jarak tanam disesuaikan dengan morfologi tanaman dan tingkat kesuburan tanahnya. Mengatur jarak tanam berarti memberi ruang lingkup hidup yang sama/merata bagi setiap tanaman. Dengan mengatur jarak  tanam ini akan diperoleh barisan-barisan tanaman yang teratur sehingga mudah dalam melakukan pengelolaan tanaman selanjutnya.

Berbagai keuntungan bertanam dengan jarak tanam yang teratur :

1. Pertanaman tampak rapi, arah barisan dapat diatur

2.  Memudahkan dalam pemeliharaannya, misalnya dalam pemberian pupuk, penyiangan, pengendalian hama penyakit, dan sebagainya.

3. Dengan jarak tanam yang teratur dapat ditentukan jumlah populasi tanaman tiap luas lahan sehingga kebutuhan bibit/benihnya dapat ditentukan sebelumnya.

Pengaturan jarak tanam juga dimaksudkan agar tanaman dapat memperoleh kebutuhan hidupnya secara merata, khususnya dalam hal kebutuhannya akan air, unsur hara, dan cahaya matahari. Kecukupan akan ketiga faktor ini merupakan penentu besarnya hasil panen. Dengan demikian, jarak tanam akan mempengaruhi hasil tanaman. Masing-masing tanaman mempunyai jarak tanam yang optimum yang berbeda dengan tanaman lainnya. Penentuan jarak tanam yang tepat terhadap satu tanaman memerlukan penelitian.

Jarak tanam akan mempengaruhi kerapatan tanaman atau jumlah populasi per unit area. Populasi tanaman mempengaruhi pertumbuhan relatif dan hasil bersih fotosintesis. Hal ini berhubungan erat dengan penangkapan energi cahaya, dan ketersediaan hara dan air dalam tanah. Dengan demikian kerapatan tanaman akan menentukan produksi tanaman. Hubungan antara produksi dengan populasi tanaman dinyatakan dalam hubungan parabolik yang merupakan fungsi kuadratik, seperti di bawah ini.

            Y = a + bX – cX2                     Y = produksi (hasil per unit area)

X = populasi tanaman

a, b, c = konstanta regresi

Distribusi tanaman, yaitu pengaturan letak tanaman pada sebidang tanah mempengaruhi keefisienan penggunaan cahaya. Arah barisan dapat digunakan untuk menggunakan cahaya secara efisien. Tanaman yang ditanam dengan arah barisan Timur-Barat menggunakan cahaya lebih efisien daripada dengan arah barisan Utara-Selatan. Dalam banyak keadaan, penggunaan arah barisan ditentukan oleh arah lereng ataupun teras-teras. Dilereng yang tidak berteras, sebaiknya barisan atau guludan tegak lurus arah lereng, di lereng yang berteras arah barisan sering sejajar lereng atau tegaklurus teras. Dengan lereng yang landai tak berteras dianjurkan bertanam menurut sistem “countur”, barisan-barisan tidak perlu lurus, dapat berkelok-kelok sesuai dengan keadaan bukit, tetapi harus sam tinggi (datar).

Model jarak tanam ada beberapa macam, yaitu :

1. Baris tunggal (single row)

2. Baris rangkap (double row)

3. Jarak bujur sangkar (on the square)

4. jarak sama segala penjuru (equidistant plant spacing)

*   *   *   *   *   *   *                                        *   *   *   *   *   *   *

*   *   *   *   *   *   *

*   *   *   *   *   *   *                                        *   *   *   *   *   *   *

*   *   *   *   *   *   *

*   *   *   *   *   *   *                                        *   *   *   *   *   *   *

*   *   *   *   *   *   *

1                                                                      2

*   *   *   *   *   *   *                                        *       *       *       *

*   *   *   *   *   *   *                                             *       *       *

*   *   *   *   *   *   *                                        *       *       *       *

*   *   *   *   *   *   *                                             *       *       *

*   *   *   *   *   *   *                                        *       *       *       *

*   *   *   *   *   *   *                                             *       *       *

*   *   *   *   *   *   *                                        *       *       *        *                                          3                                                                      4

Untuk tanaman berbaris, jarak dalam barisan dan antar barisan menentukan kerapatan (spacing). Jarak antar barisan ditentukan oleh perlengkapan-perlengkapan untuk penyiangan (traktor, landak, atau tangan maupun penggunaan sistem tumpangsari). Kecenderungan dewasa ini adalah ke jarak yang sempit, dan perlengkapan-perlengkapan sekarang diarahkan kesana. Kerapatan tanaman mempengaruhi penampilan dan diarahkan kesana. Kerapatan tanaman mempengaruhi penampilan dan produksi tanaman, terutama karena keefisienan penggunaan cahaya.

Pada umumnya produksi tiap satuan luas yang tinggi tercapai dengan populasi tinggi, karena tercapainya penggunaan cahaya secara maksimum diawal pertumbuhan. Akan tetapi pada akhirnya, penampilan masing-masing tanaman secara individu menurun karena persaingan (competition) untuk cahaya dan faktor-faktor tumbuh lainnya. Tanaman memberikan respons dengan mengurangi ukuran baik pada seluruh tanaman maupun bagian-bagian tanaman (cabang, umbi atau polong).

Kerapatan tanaman penting diketahui untuk menentukan sasaran agronomi, yaitu produksi maksimum. Dari berbagai penelitian jarak tanam dapat diketahui jarak tanam dimana mulai terjadi pendataran garis grafik. Berarti setelah kondisi itu penambahan populasi tidak lagi dapat meningkatkan produksi, bahkan terjadi persaingan yang sangat ketat yang pada akhirnya terjadi penurunan produksi. Kerapatan optimum ditentukan oleh pertimbangan-pertimbangan ekonomi dalam menentukan keuntungan optimum. Produksi dengan kontinyu naik menurut naiknya populasi, akan tetapi sejak titik kompetisi tercapai produksi semakin turun. Tetapi bila mutu merupakan faktor penentu harga, produksi optimum terjadi pada suatu populasi tertentu. Sesudah itu kenaikan populasi akan menurunkan mutu, berarti harga jual atau keuntungan akan menurun.

BAB IV

PENUTUP

DAFTAR PUSTAKA

http://agronomi-sistem-pertanian.html

 

http://Dasar-Dasar%20Ilmu%20Agronomi%20%C2%AB%20Newbie%20Tora.htm

 

http://melly28.wordpress.com

 

http://nandagokilz1.wordpress.com

 

http://www.lablink.or.id/index.html

Diktat Dasar-Dasar Agronomi Universitas jambi

 

BADAI SANDY

TUGAS

AGROKLIMATOLOGI

Penyebab Badai Sandy

Oleh

                                       Nama                      Novia Anjani

                               NIM                        D1B011027

                               Kelas                      “D” Agribisnis

AGRIBISNIS

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS JAMBI

2012

Penyebab Badai Sandy

Badai Sandy yang kini melumpuhkan New York dan New Jersey memang cuma dimasukkan sebagai kategori 1, namun dampak yang cukup signifikan. Banjir hingga kini melanda New York, tanggul di New jersey. Badai topan Sandy juga mengakibatkan dampak yang sangat besar bagi warga Amerika Serikat. Aliran listrik pun ikut terputus akibat terjangan badai dahsyat ini. Diberitakan oleh AFP melalui Detik.com, Rabu, 31 Oktober 2012, kini 6,9 juta jiwa penduduk Amerika yang tersebar di 15 negara bagian dan District of Columbia tengah hidup tanpa listrik.

Beberapa pihak berpendapat, badai yang “membunuh” lebih dari 40 orang itu terjadi karena efek dari perubahan iklim. Namun, ketika datang badai tropis, para ahli mengatakan tidak dapat memberi jawaban hitam atau putih mengenai isu kompleks dalam meteorologi. Badai tropis sendiri terjadi karena dorongan temperatur di permukaan laut yang meningkatkan temperatur samudra diketahui sebagai siklon topan dan badai dapat meningkat dan menjadi tak terkendali. Para ahli memberikan prediksi yang samar mengenai apa yang akan terjadi di abad ini, ketika suhu permukaan diperkirakan meningkat 2 sampai 3 derajat celcius.

“Ada sejumlah bukti menunjukan bahwa dengan perubahan iklim kita dapat melihat kecepatan angin yang kuat tetapi jumlah keseluruhan siklon tropis (akan menunjukan) tidak adanya perubahan atau mungkin turun sedikit,” ujar kepala perubahan iklim di Britain’s Overseas Development Institute.

Sementara itu, Kepala Penelitian Iklim pada Prakiraan Cuaca di layanan Meteo France, Serge Planton menjelaskan mengapa keterkaitan perubahan iklim dengan badai menjadi sulit dipastikan. Sebuah topan tidak hanya tergantung pada suhu permukaan laut, tetapi juga pada struktur angin di setiap lapisan atmosfer dan tidak merespon secara sederhana terhadap perubahan iklim.

Ilmuwan cuaca, iklim dan astronomi berpendapat bahwa salah satu yang menyebabkan badai Sandy tak biasa adalah Purnama yang terjadi Senin (29/10/2012) malam. Purnama dianggap memperburuk dampak badai Sandy.

National Geographic, Senin, memberitakan bahwa saat purnama, Bulan, Bumi dan Matahari berada di satu garis. ‘Baik Matahari dan Bulan menarik Bumi,” kata  Rick Luettich, direktur Institute of Marine Science, University of North Carolina. Akibat hal tersebut, terjadi pasang yang berbeda dengan pasang di waktu lain dalam bulan yang sama. Pasang yang terjadi dikenal dengan pasang purnama. Gelombang akibat pasang ini bisa lebih tinggi dibanding pasang biasanya.

Dalam kasus badai Sandy, pasang yang diakibatkan purnama memperburuk dampak banjir akibat air laut. Pasang purnama dianggap sebagai salah satu yang berkontribusi pada banjir yang terjadi sejak Senin malam. Meski demikian, tidak dinyatakan seberapa besar efek purnama pada dampak badai Sandy.

Ada faktor lain yang menyebabkan dampak badai Sandy di AS lebih buruk. Salah satu faktor itu adalah sistem tekanan rendah yang ada di Kanada. Sistem ini menghalangi badai bergerak terus ke utara. Dilaporkan National Geographic, akibat sistem itu, badai berbelok ke kiri. Faktor lain ialah arus udara dengan arah gerak yang di luar biasanya. Di Amerika Serikat, biasa dikenal arus udara yang dikenal jet stream yang bergerak dari barat ke timur. Namun, kali ini, jet stream bergerak dari tenggara ke barat laut.

Joe Picca, meteorolog dari National weather Service Forecast Office di New York mengungkapkan bahwa jet stream ini dapat memperkuat badai Sandy. Jet stream akan membentuk ruang vakum di atas badai, membuat udara dalam badai mengisi ruang itu dan akhirnya memperkuat badai.

Sumber : http://techno.okezone.com/read/2012/10/31/56/711484/redirect

http://sains.kompas.com/read/2012/10/30/19420889/Purnama.Dianggap.Memperburuk.Dampak.Badai.Sandy

PROTISTA

TUGAS BIOLOGI

PROTISTA

DISUSUN OLEH :

NAMA     :  NOVIA ANJANI

NIM     :  D1B0011027

PRODY        :  AGRIBISNIS ( D )

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS JAMBI

2011

PROTISTA

Klasifikasi ilmiah
Domain: Eukaryota
Kerajaan: Protista *
Haeckel, 1866
Fila

Protista merupakan organisme eukariotik uniseluler yang hidup soliter atau berkoloni. Protista dapat digolongkan menjadi protista mirip hewan (protozoa), protista mirip tumbuhan (alga) dan protista mirip jamur (jamur lendir/slame mold). Bentuk tubuh organisme golongan protista amatlah beragam. Protista memiliki cara makan yang berbeda-beda, dan dapat digolongkan dalam tiga kategori:
1. Protista autototrof, yaitu protista yang memiliki klorofil sehingga mampu berfotosintesis.

Contohnya : Alga
2. Protista menelan makanan, dengan cara fagositosis melalui membran sel.

Contohnya:Protozoa
3. Protista saprofit dan parasit, mencerna makanan di luar sel dan menyerap sari-sari makanannya.

Contoh: jamur

1. Protista Mirip Hewan (Protozoa)

Protozoa berasal dari bahasa Yunani yaitu Protos artinya pertama dan Zoon artinya hewan. Protozoa sering disebut hewan bersel satu (uniseluler). Seluruh kegiatan hidupnya dilakukan oleh sel itu sendiri melalui organel-organel yang secara fungsi analog dengan sistem organ pada hewan-hewan bersel banyak (metazoa).

Ciri-ciri Protozoa
1) Ukuran tubuh mulai dari 10 mikron-6 mm
2) Bentuk protozoa bervariasi yaitu asimetris, bilateral simetris, radial simetris dan spiral
3) Bergerak dengan flagel, pseudopodia, silia atau dengan gerakan sel itu sendiri
4) Cara hidupnya bebas, komensalisme, mutualisme, parasit
5) Cara mendapatkan makanan dibedakan menjadi : holozoik, saprofit, saprozoik, holozoik
6) Habitatnya di tempat-tempat berair, seperti di selokan, sawah, parit, sungai, dll.

Penggolongan Protozoa

Berdasarkan alat geraknya protozoa dibedakan menjadi 5 kelas yaitu:

1) Flagellata atau Mastigophora (Yunani, mastix: cambuk, poros: membawa)
Umumnya hidup di dalam air, beberapa hidup parasit pada hewan dan manusia. Flagellata mempunyai bentuk yang tetap. Berkembangbiak dengan cara aseksual dengan pembelahan biner dan seksual dengan cara konjugasi. Berdasarkan ada tidaknya klorofil kelas flagellata dibedakan menjadi dua macam yaitu:
a. Fitoflagellata
- Flagellata yang mampu melakukan fotosintesis karena mempunyai kromatofora
- Habitat di perairan bersih dan perairan kotor
- Contohnya: Euglena viridis (mempunyai klorofil), Euglena sanguinea (mempunyai pigmen fikoeritrin/merah), Volvox globator (hidup berkoloni), Noctiluca miliaris (mengeluarkan cahaya di malam hari).
b. Zooflagellata/dinoflagellata
- Tidak mempunyai klorofil, sehingga bersifat heterotrof
- Umumnya hidup sebagai parasit pada hewan dan manusia
- Contohnya:

  • Nama spesiesnya Penyakit yang ditimbulkan
  • Tripanosoma levisi parasit pada darah tikus
  • Tripanosoma cruci penyebab penyakit cagas (anemia anak)
  • Tripanosoma evansi sakit surrah, vector lalat tabanidae
  • Tripanosoma brucei penyakit nagano pada ternak
  • Tripanosoma gabiense sakit tidur, vektor lalat tsetse (G, palpalis)
  • Tripanosoma rhodosiense sakit tidur, vektor lalat tsetse (G, palpalis)
  • Tripanosoma vaginalis keputihan pada vagina
  • Leishmania donovani kalaazar
  • Leishmania tropika penyakit kulit2) Ciliata/Ciliophora/Infusuria

Merupakan kelas terbesar dari protozoa. Ciliata adalah hewan yang berbulu getar. Silia berfungsi untuk bergerak. Menangkap makanan dan untuk menerima rangsangan dari lingkungan. Habitat banyak di tempat berair. Mempunyai bentuk tubuh yang tetap dan tetap, dan oval. Beberapa contoh kelas ciliata:
Paramecium caudatum
o Disebut hewan sandal
o Habitat di tempat berair, sawah, rawa
o Mempunyai dua macam nukleus yaitu mikronukleus untuk reproduksi dan makronukleus untuk membantu proses fisiologis yang lain
o Mempunyai dua macam vakuola yaitu vakuola makanan berfungsi untuk membantu mencerna makanan dan vakuola kontraktil berfungsi untuk mengeluarkan sisa makanan cair
o Berkembangbiak dengan dua cara yaitu vegetatif dengan cara pembelahan biner dan generatif dengan cara konjugasi
Nyctoterus ovalis (hidup diusus kecoa, berbentuk oval mirip Paramecium sp
Stylonichia
- Banyak ditemukan pada permukaan daun terendam air
- Bentuknya seperti siput
Balantidium coli (habitat di kolon manusia)
Stentor (bentuk seperti terompet, sesil, habitat di sawah-sawah)
Vorticella (bentuk seperti lonceng, sesil)
Didium (mangsa dari Paramecium sp)
3) Rhizopoda/Sarcodina

Bergerak dan menangkap mangsa dengan menggunakan kaki semu (ada dua macam yaitu lobodia dan filopodia). Hidup bebas di dalam air laut dan tawar. Berkembangbiak dengan cara membelah biner. Contoh-contohnya yaitu:
a. Amoeba sp
- Bentuk selalu berubah-ubah
- Habitat di air tawar
- Inti sel berfungsi untuk mengatur seluruh kegiatan yang berlangsung dalam sel
- Mempunyai vakuola makanan dan vakuola kontraktil
- Reproduksi dengan pembelahan biner
b. Contoh lain :
Nama spesies Keterangan
Entamoeba histolytica Di dalam usus halus manusia, penyebab disentri amoeba
Entamoeba coli Di dalam usus besar manusia, penyebab diare
Entamoeba gingivalis Di dalam rongga gigi, merusak gigi dan gusi
Arcella sp Memiliki kerangka luar, terdapat di air tawar
Difflugia Mempunyai selaput halus, sehingga pasir dapat menempel
Foraminifera Kerangka luar dari kapur
Radiolaria Kerangka luar dari kersik

4) Sporozoa (spora: benih, zoon : binatang)

Sporozoa adalah hewan berspora, tidak mempunyai alat gerak, bergerak dengan mengubah kedudukan tubuhnya. Hampir semua spesies ini bersifat parasit. Reproduksi dengan dua cara yaitu: vegetatif (schizogojni/pembelahan diri berlangsung dalam tubuh inang dan sporogoni/membuat spora yang berlangsung dalam tubuh inang perantara) dan generatif (melalui peleburan yang terjadi pada tubuh nyamuk). Contoh-contoh sporozoa:
a) Plasmodium vivax, penyebab penyakit malaria tertiana, masa sporulasi (2×24 jam) atau setiap 48 jam.
b) Plasmodium malariae, penyebab penyakit malaria quartana, masa sporulasi 72 jam
c) Plasmodium falcifarum, penyebab penyakit malaria tropika, masa sporulasi (1-2×24 jam)
d) Plasmodium ovale, penyebab penyakit limpa, masa sporulasi (2×24 jam), tidak terdapat di Indonesia
Daur hidup Plasmodium
Penemu daur hidup Plasmodium Laveran dan Grassi
Vektornya nyamuk Anopheles betina
Mengalami 2 fase, yaitu:
a. Fase generatif, terjadi dalam tubuh nyamuk malaria
Skema : fertilisasi —- zigot —- ookinet —- oosista —- sporozoid
b. Fase vegetatif, terjadi dalam rubuh manusia ada dua tempat yaitu:
a) Dalam hati (disebut eksoeritrositik)
Skema : sporozoid —- skizon erytozoik —- merozoit eryptozoik
b) Dalam darah (eritrositik)
Skema : tropozoit —- skizon muda —- skizon matang —- merozoit —- makrogamet/mikrogamet

2. Protista Mirip Tumbuhan (Alga)

Dalam sistem 5 kingdom, alga bukan nama takson dan tidak masuk dalam kingdom plantae. Alga masuk dalam kingdom protista, karena mempunyai ciri-ciri tubuh tersusun dari satu atau banyak sel, yang tidak berdiferensiasi membentuk jaringan khusus. Berdasarkan pigmen yang dikandungnya alga dibedakan manjadi 6 filum yaitu:

1) Filum Euglenophyta

Hidup di air tawar, di dalam tanah dan tempat lembab. Mempunyai ciri-ciri mirip hewan dan tumbuhan. Dianggap mirip hewan karena selnya tidak berdinding, bergerak bebas dan berbintik mata. Mirip tumbuhan karena memiliki klorofil a, b dan karotin untuk berfotosintesis.
Contoh Euglena viridis
a. Habitat di air tawar, misal di sawah atau air tergenang lainnya
b. Bentuk selnya oval, terdapat bintik mata atau stigma untuk membedakan gelap terang
c. Mempunyai satu flagel pada mulut selnya
d. Cara makan dengan fotosintesis dan memakan zat-zat organik
e. Berkembangbiak dengan pembelahan biner

2) Filum Alga Hijau (Chlorophyta)

Chlorophyta umumnya hidup di air tawar (90%) dan di laut (10%). Pigmen memiliki klorofil a, b, karotin dan xantofil, kloroplas mempunyai bentukseperti spiral, mangkuk, lembaran, bola. Tubuh bersel satu seperti benang, lembaran dan seperti tumbuhan tinggi. Reproduksi vegetatif dengan cara pembelahan biner, fragmentasi benang/koloni, pembentukan zoospora dan generatif dengan cara konjugasi, fertilisasi. Cara hidup dengan autotrof dan bersimbiosis dengan jamur membentuk lumut kerak.
Contoh Chlorophyta
Chlorophyta bersel tunggal tidak bergerak
Chlorella
a) Habitat di air tawar, air laut dan tempat yang lembab
b) Bentuk sel bulat dengan kloroplas seperti mangkuk
c) Digunakan penyelidikan metabolisme di laboratorium
d) Berperan sebagai bahan obat-obatan, bahan makanan dan bahan kosmetik
Chlorococcum
a) Bersel satu, habitat di air tawar dan tanah yang basah
b) Bentuk sel bulat telur, dengan kloroplas seperti mangkuk
c) Reproduksi dengan membentuk zoospora
Chlorophyta bersel tunggal dapat bergerak
Chlamydomonas
a) Bentuk bulat telur, dengan kloroplas seperti mangkuk dilengkapi stigma dan pirenoid (pusat pembentukan amilum)
b) Memiliki 2 flagel sebagai alat gerak
c) Terdapat 2 vakuola kontraktil
d) Reproduksi vegetatif dengan cara membentuk zoospora dan generatif dengan cara konjugasi/isogami
Chlorophyta berbentuk koloni tidak bergerak
Hydrodiction
a) Habitat di air tawar, koloninya berbentuk jala, reproduksi vegetatif dengan cara zoospora dan fragmentasi, reproduksi generatif dengan cara konjugasi.
b) Dapat diamati dengan mata telanjang
Chlorophyta berbentuk koloni dapat bergerak
Volvox globator
a) Habitat di air tawar, koloni berbentuk bola, tiap sel mempunyai 2 flagel
b) Reproduksi vegetatif dengan cara fragmentasi dan reproduksi generatif dengan cara konjugasi
Chlorophyta berbentuk benang
Spirogyra
a) Habitat di air tawar, kloroplas seperti pita spiral dan sebuah inti
b) Reproduksi generatif dengan cara fragmentasi dan generatif dengan cara konjugasi
Oedogonium
a) Habitat di air tawar dan sesil, kloroplas seperti jala dan tiap sel memiliki satu nukleus
b) Reproduksi vegetatif dengan cara membentuk zoozpora berflagel banyak dan generatif dengan cara fertilisasi
Chlorophyta berbentuk lembaran
Ulva lactuva
a) Hidup menempel pada kayu atau batu-batu
b) Habitat di air asin dan air payau
c) Reproduksi vegetatif dengan cara membentuk zoospora berflagel empat dan generatif dengan cara anisogami
Chara
a) Habitat di air tawar dan laut, menempell pada batu-batuan
b) Bentuk talusnya seperti tumbuhan tinggi
c) Reproduksi vegetatif dengan fragmentasi dan generatif dengan fertilisasi

3) Filum Alga Keemasan (Chrysophyta)

Terdiri atas alga yang uniseluler atau multiseluler. Dibedakan dalam tiga kelas utama yaitu:
a) Kelas alga hijau-kuning (xanthophyceae)
o Pigmen yang dimiliki yaitu klorofil (hijau) dan xantofil (kuning)
o Reproduksi vegetatif membentuk zoospora, generatif dengan fertilisasi
o Contohnya: Vaucheria sp
b) Kelas alga coklat-keemasan (chrysopyceae)
o Pigmen yang dipunyai klorofil (hijau) dan karoten (pigmen keemasan), hasil fotosintesis disimpan dalam bentuk karbohidrat dan minya
o Tubuhnya ada yang uniseluler, contohnya: Ochromonas sedang ada pula yang multiseluler contonya Synura
c) Kelas diatom (bacillariophyceae)
o Banyak dijumpai di atas permukaan tanah basah, tubuhnya ada yang uniseluler dan berkoloni
o Dinding tersusun atas dua belahan yaitu kotak (hipoteka) dan tutup (epiteka)
o Contohnya : Navicula, Pinnularia, Cyclofella

4) Filum Alga Api (Pyrrophyta)

a) Disebut juga dinoflagellata, tubuhnya tersusun atas satu sel dan berdinding sel, dapat bergerak aktif, habitat di laut bersifat fosforesensi (memancarkan cahaya)
b) Sebelah luarnya terdapat celah atau alur, masing-masing mengandung satu flagel
c) Pigmennya klorofil dan coklat kekuning-kuningan, contohnya Peridium

5) Filum Alga Coklat (Phaeophyta)
a) Bentuknya seperti tumbuhan tinggi, sebagian besar hidup di laut. Tubuhnya melekat di bebatuan, sedangkan talusnya terapung di permukaan
b) Pigmennya fikosantin, klorofil a, klorofil c, violaxantin, b-karotin, diadinoxantin
c) Cadangan makanan berupa lamirin yang disimpan dalam pirenoid, ruang antar sel pada dinding selnya mengandung asam alginat (algin)
d) Reproduksi vegetatif zoospora berflagel dan fragmentasi, generatif dengan cara oogami atau isogami
e) Contohnya Sargassum muticum (gulma laut), Fucus serratus, Macrocystis pyrifera (alga raksasa), Turbinaria decurrens

6) Filum Alga Kemerahan (Rhodophyta)
Habitat sebagian besar di laut (rumput laut) dan sebagian kecil di air tawar
Pigmen klorofil a, b dan fikoeritrin, karoten
Reproduksi vegetatif membentuk tetraspora dan generatif dengan cara oogami
Contohnya : Carollina., Palmaria, Batrachospermum moniliforme, Gelidium (agar-agar), Gracilaria, Euchema (kosmetik), Scinaia furcellata

Manfaat Alga Bagi Kehidupan Manusia‘
a. Bibang perikanan (sebagai makanan ikan yaitu fitoplankton dan zooplankton)
b. Bidang pertanian (Rumput laut untuk pupuk dipesisir)
c. Ekosistem perairan (sebagai produsen primer)
d. Bidang industri (tanah diatom untuk amplas, isolasi, bahan dasar kaca)
e. Bahan dasar makanan : Gelidium (agar-agar), Chondrus (minuman coklat), alginat (bahan campuran es krim), Porphyra (makanan)
f. Bahan obat-obatan (Chlorella)

3. Protista Mirip Jamur (Jamur Protista)

Protista mirip jamur tidak dimasukkan ke dalam fungi karena struktur tubuh dan cara reproduksinya berbeda. Jamur protista dibedakan menjadi dua macam yaitu:
a. Filum Jamur Lendir (Myxomycota)

a) Habitat di hutan basah, batang kayu yang membusuk, tanah lembab, kayu lapuk
b) Struktur tubuh vegetatif berbentuk seperti lendir atau plasmodium, yang berinti banyak dan bergerak seperti Amoeba
c) Fase hidupnya ada dua fase yaitu fase hewan (fase berbentuk plasmodium) dan fase tumbuhan (fase plasmodium mengering membentuk tubuh-tubuh buah yang bertangkai)
d) Reproduksi vegetatif dengan cara plasmodium dewasa membentuk spora dan generatif dengan cara peleburan spora kembara (myxoflagella, mempunyai 1 inti dan 2 flagel), yang akan membentuk zigot yang kemudian akan membentuk plasmodium.
b. Filum Jamur Air (Oomycota)
a) Hifa tidak bersekat, bersifat senositik (intinya banyak), dinding sel dari selulosa
b) Reproduksi vegetatif dengan cara membentuk zoospora, yang memiliki 2 flagel dan generatif dengan cara fertilisasi yang akan membentuk zigot yang tumbuh menjadi oospora.Contohnya : Saprolegnia (parasit pada telur ikan), Phytophthora (parasit pada tanaman kentang), Phytium (penyebab busuknya kecambah dan busuk akar)

TANAH

TUGAS

Dasar-dasar Ilmu Tanah

“tanah”

NAMA                          :  NOVIA ANJANI

NIM                                : D1B011027

KELAS                           :  AGRIBISNIS “D”

AGRIBISNIS

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS JAMBI

2012

BAB I

PENDAHULUAN

Tanah (bahasa Yunani: pedon; bahasa Latin: solum) adalah bagian kerak bumi yang tersusun dari mineral dan bahan organik.

Ilmu yang mempelajari berbagai aspek mengenai tanah dikenal sebagai ilmu tanah.

Tanah secara umum dipahami sebagai bagian dari daratan muka bumi yang kepentingan manusia terhadapnya beragam.  Tanah sangat vital peranannya bagi semua kehidupan di bumi karena tanah mendukung kehidupan tumbuhan dengan menyediakan hara dan air sekaligus sebagai penopang akar. Struktur tanah yang berongga-rongga juga menjadi tempat yang baik bagi akar untuk bernapas dan tumbuh. Tanah juga menjadi habitat hidup berbagai mikroorganisme. Bagi sebagian besar hewan darat, tanah menjadi lahan untuk hidup dan bergerak.

Dalam pertanian, tanah diartikan lebih khusus yaitu sebagai media tumbuhnya tanaman darat. Sebagai media tumbuh tanaman maka tanah befungsi sebagai :

  • Tempat berjangkar dan berkembangnya perakaran tanaman
  • Sebagai penyedia makanan untuk tanaman (hara tanaman)
  • Sebagai penyedia air bagi tanaman

Terkait dengan pengertian tanah sebagai media tumbuh maka tanah dapat dipelajari melalui ilmu edaphologi: -> Edaphologi mempelajari tanah sebagai media tumbuh dalam  hubungannya dengan pertumbuhan tanaman. Untuk mempelajari tanah secara komprehensif maka perlu mempelajari bidang khusus dalam ilmu tanah di antaranya:

v  Fisika tanah                                         : Mempelajari sifat fisika tanah

v  Kimia Tanah                                        : Mempelajari sifat kimia tanah

v  Kesuburan tanah                                 : Mempelajari unsur hara tanah dan pertumbuhan  tanaman dan usaha memperbaikinya

v  Survei tanah                                        : Mempelajari sifat tanah di lapangan & pengelompokannya dan menggambarkannya dalam peta tanah

v  Mikrobiologi tanah                              : Mempelajari mikroorganisme yang  berpengaruh terhadap  tanah &tanaman

v  Mineralogi Tanah                                 :  Mempelajari mineral dan pengaruhnya terhadap tanah dan tanaaman

v  Genesis dan klasifikasi tanah              : Mempelajari  pembentukan tanah dan klasifikasinya

v  Konservasi (pengawetan) tanah dan air          : mempelajari jenis dan proses-proses erosi, usaha usaha pencegahan erosi atau pengawetan tanah dan air

BAB II

BAHAN-BAHAN PENYUSUN TANAH

Tanah tersusun dari 4 bahan utama, yaitu: bahan mineral, bahan organic, air dan udara. Bahan-bahan penyusun tersebut jumlahnya masing-masing berbeda untuk setiap jenis tanah ataupun setiap lapisan tanah. Pada tanah lapisan atas yang baik untuk pertumbuhan tanaman lahan kering (bukan sawah) umumnya mengandung 45% (volume) bahan mineral, 5% bahan organic, 20-30% udara, 20-30% air.

1.      Bahan Mineral
Bahan mineral dalam tanah berasal dari pelapukan batu-batuan. Bahan mineral dalam tanah

dapat dibedakan menjadi

  • Fraksi tanah halus (fine earth fraction) yng berukuran < 2mm, pasir 2mm-50µ, debu 50-2, liat <2
  • Fragmen batuan (rock fragment) yang berukuran 2mm sampai ukuran horisontalnya lebih kecil dari sebuah pedon.  Dari kerikil, kerakal atau batu.

Mineral tanah dibedakan menjadi mineral primer dan mineral sekunder. Mineral primer adalah mineral yang berasal langsung dari batuan yang dilapuk, biasanya terdapat dalam fraksi-fraksi pasir dan debu. sedang mineral sekunder adalah mineral bentukan baru yang terbentuk selama proses pembentukan tanah berlangsung, umumnya terdapat dalam fraksi liat.

Mineral primer adalah mineral yang banyak mengandung unsur Mg dan Fe umumnya berwarna kelam sehingga sering disebut mineral kelam. Mineral sekunder  yang sering ditemukan dalam tanah antara lain kaolinit, haloisit, montmorilonit, Al oksida, Fe oksida dll.

2.      Bahan Organik

Bahan organic berasal dari hasil penimbunan sisa-sisa tumbuhan dan binatang, sebagian telah mengalami pelapukan dan pembentukan kembali menjadi mangsa jasad mikro, sehingga sifatnya selalu berubah atau tidak mantap. Bahan organik umumnya ditemukan di permukaan tanah jumlahnya tidak besar, hanya sekitar 3-5 %. Kadar bahan organik pada tanah mineral umumnya < 3%.

Pengaruh bahan organic terhadap sifat-sifat tanah dan akibatnya terhadap pertumbuhan. Berfungsi sebagai perekat butiran tanah, sumber utama unsur N, P dan S, meningkatkan kemampuan tanah dan menahan air dan hara serta sebagai sumber energi bagi jasad mikro.

Komposisi :

  1. jaringan asli (bagian akar dan atas tanaman) dan bagian baru yang telah mengalami    pelapukan.
  2. humus : telah diubah dari sifat aslinya secara menyeluruh, berwarna hitam, bersifat kolodial, kemampuan menahan air dan ion lebih besar dari liat.

Tanah yang banyak mengandung humus atau bahan organic adalah tanah-tanah lapisan atas atau top soil.

3.      Air

Air terdapat dalam tanah terdapat dalam ruang pori tanah. Kuat atau tidaknya air ditahan oleh tanah yang mempengaruhi tingkat ketersediaan air tanah bagi tanaman.

  • Air dalam pori besar umumnya tidak tersedia bagi tanaman karena segera hilang merembes ke bawah.
  • Air dalam pori sedang: mudah diserap oleh tanah.
  • Air dalam pori halus : sulit diambil oleh tanaman. Jadi, tidak semua air dalam tanah tersedia bagi tanaman, sebagian tetap tinggal dalam tanah.
  • Larutan tanah mengandung garam-garam larut, sebagian besar berupa hara tanaman :
    · N, P ,K Ca, Mg dan S (hara makro)
  • · Fe,Mn, B, Mo,Cu, Zn dan Cl (hara mikro)
  • Terjadi dinamika hara dengan adanya pertukaran antara hara dalam larutan dengan yang terdapat di permukaan tanah.

Air dapat meresap atau ditahan oleh tanah karena adanya gaya adhesi, kohesi, dan gravitasi. Adanya gaya tersebut maka air dapat dibedakan menjadi Air higroskopik dan air kapiler.

4.      Udara

Udara menempati pori tanah (terutama sedang dan besar) yang tidak terisi air. Jumlahnya berubah-ubah tergantung kondisi air tanah.

Susunan udara dalam tanah berbeda dengan susunan udara di atmosfir sebagai berikut :

  • kandungan uap air lebih tinggi. Tanah yang lembab mempunyai udara dengan kelembaban nisbi (relative humidity=RH) mendekati 100%
  • kandungan CO2 > atmosfer (<0,03%)
  • kandungan O2 < atmosfer (udara tanah 10-12% 02 ; atmosfir 20%(O2)

BAB III

PROSES PEMBENTUKAN TANAH

Hans Jenny (1899-1992), seorang pakar tanah asal Swiss yang bekerja di Amerika Serikat, menyebutkan bahwa tanah terbentuk dari bahan induk yang telah mengalami modifikasi/pelapukan akibat dinamika faktor iklim, organisme (termasuk manusia), dan relief permukaan bumi (topografi) seiring dengan berjalannya waktu. Berdasarkan dinamika kelima faktor tersebut terbentuklah berbagai jenis tanah dan dapat dilakukan klasifikasi tanah.

Proses pembentukan tanah dikenal sebagai ”pedogenesis”. Proses yang unik ini membentuk tanah sebagai tubuh alam yang terdiri atas lapisan-lapisan atau disebut sebagai horizon tanah

Asal tanah:

Merupakan hasil pelapukan batuan dan bercampur dengan bahan organik dari vegetasi (tumbuhan) dan hewan dan makhluk lain yang hidup di atas dan di dalamnya

Berdasarkan asal usul dan proses terjadinya tanah maka tanah diartikan sebagai :

Tubuh alam bebas dipermukaan bumi yang  terdiri dari bahan mineral, bahan organik, air, dan udara yang tersusun  dalam horison-horison (lapisan) yang terbentuk akibat kerja gaya-gaya alam

Pembentukan tanah di bagi menjadi empat tahap

  1. Batuan yang tersingkap ke permukaan bumi akan berinteraksi secara langsung dengan atmsosfer dan hidrosfer. Pada tahap ini lingkungan memberi pengaruh terhadap kondisi fisik. Berinteraksinya batuan dengan atmosfer dan hidrosfer memicu terjadinya pelapukan kimiawi.
  2. Setelah mengalami pelapukan, bagian batuan yang lapuk akan menjadi lunak. Lalu air masuk ke dalam batuan sehingga terjadi pelapukan lebih mendalam. Pada tahap ini di lapisan permukaan batuan telah ditumbuhi calon makhluk hidup.
  3. Pada tahap ke tiga ini batuan mulai ditumbuhi tumbuhan perintis. Akar tumbuhan tersebut membentuk rekahan di lapisan batuan yang ditumbuhinya. Di sini terjadilah pelapukan biologis.
  4. Di tahap yang terakhir tanah menjadi subur dan ditumbuhi tanaman yang ralatif besar.
  1. Profil Dan Solum Tanah

Lapisan tanah mempunyai sifat yang berbeda-beda. Disuatu tempat ditemukan lapisan pasir berselang-seling dengan lapisan liat, lempung atau debu, sedang di tempat lain ditemukan tanah yang semuanya terdiri dari liat, tetapi di lapisan bawah berwarna kelabu dengan bercak-bercak marah, di bagian tengah berwarna merah, dari lapisan atasnya berwarna kehitam-hitaman. Lapisan-lapisan  tersebut terbentuk karena dua hal yaitu:

  1. Pengendapan yang berulang-ulang oleh genangan air apabila air genangan tersebut masih mengalir dengan kecepatan tinggi maka hanya butir-butir kasar seperti pasir kerikil yang dapat diendapkan.
  2. Karena proses pembantukan tanah. Proses pembentukan tanah dimulai dari proses pelapukan batuan induk menjadi bahan induk tanah, di ikuti oleh proses percampuran bahan organic dengan bahan mineral di permukaan tanah, pembebtukan struktur tanah, pemindahan bahan-bahan tanah dari bagian atas tanah ke bagian bawah dan berbagai proses lain yang dapat menghasilkan horizon-horison tanah. Horizon tanah adalah lapisan-lapisan tanah yang terbentuk karena hasil dari proses pembentukan tanah.

Proses pembantukan horizon-horison tersebut akan menghasilkan benda alam baru yang disebut tanah. Penampang vertical dari tanah yang menunjukkan susunan horizon tanah tersebut profil tanah. Ada 6 horison utama yang menyusun profil tanah berturut-turut dari atas ke bawah yaiti horizon O,A,E,B,C, dan R. sedang horizon yang menyusun solum tanah adalah hanya horizon A,E dan B

1.Horison O

Horiosn ini ditemukan di lahan kering terutama pada daerah hutan yang belum terganggu tanahnya. Horison O dapat dibagi atas :

a. O1 horison yang bentuk asli sisa-sisa tanaman masih jelas kelihatan.

b. O2 horison yang bentuk asli sisa tanaman sudah tidak bisa kelihatan.

2. Horison A

            Horison A merupakan horison dipermukaan tanah yang terdiri dari campuran bahan organik dan bahan mineral. Merupakan harison yang proses eluviasi terjadi yaitu proses pencucian unsur-unsur dan bahan-bahan halus seperti lempung. Horison ini dibagi atas tiga bagian yaitu:

a. A1: bahan mineral campur dengan humus, berwarna gelap

b. A2: horison dimana terdapat pencucian (eluviasi) maksimum terhadap lempung, Fe dan bahan organik.

c. A3: horison peralihan ke B, lebih menyerupai A.

3. Horison B

Horison iluviasi (penimbunan) dari bahan-bahan yang tercuci di atasnya (lempung, Fe, Al, bahan organik)

a. B1 horison perlaihan dari A ke B, tetapi lebih menyerupai B.

b. B2 horison penimbunan (iluviasi) maksimum liat, Fe dan Al oksida, kadang-kadang bahan organik.

c. B3 horison peralihan ke C, tetapi lebih menyerupai B.

4. Horison C

Horison C merupakan horison yang masih sedikit mengalami pelapukan, horison C biasa juga disebut dengan horison isovolumetrik. Yaitu harison dimana volume batuan belum mengalami perubahan tetapi berat jenis batuan telah mengalami perubahan akibat adanya unsur-unsur penyusun batuan yang keluar dari batuan induk.

5. Horison E

Horison dimana terjadi pencucian (eluviasi) maksimum terhadap liat, Fe, Al, bahan organic. Barwarna pucat.

6. Horison R

Batuan keras yang belum dilapuk. Tidak dapat ditembus akar tanaman.

Horizon Peralihan

AB- horison peralihan dari A ke B, tetapi lebih menyerupai A(nama lama A3)

BA- horison peralihan dari A ke B, tetapi lebih menyerupai B (nama lama B1)

BC- horison peralihan dari B ke C, tetapi lebih menyerupai B (nama lama B3)

Kegunaan profil tanah :

a)  Untuk mengetahui kedalaman lapisan olah (Lapisan Tanah Atas = O-A) dan solum(O-A-E-B)

b)  Untuk mengetahui kelengkapan atau differensiasi horison pada profil

c)  Untuk mengetahu warna tanah

  1. Pedon Dan Polipedon

Tanah yang telah berkembang dengan berbagai proses mempunyai sifat yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut maliputi perbedaan sifat-sifat profil tanah seperti jenis dan susunan horizon, kedalaman solum tanah, kandungan bahan organic dan liat, kandungan air dan sebagainya.

Simbol Baru Horison Tanah

Penamaan horison tanah mengalami perubahan yang dilakukan oleh Soil Survey Staff (1987). Adapun perubahan tersebut adalah sebagai berikut:

Nama Lama Nama Baru Penjelasan
O O Hoison organik yang selalu jenuh air atau tidak pernah jenuh air. Kandungan bahan organik > 20% (pasir) atau 30 % (lempung)
O1    Oi, Oe Tingkat dekomposisi bahan organik kasar (fibrik= i) atau sedang (hemin= e)
O2    Oa, Oe Tingkat dekomposisi bahan organik halus (saprik = a) atau sedang (hemik = e)
A1 A Horison mineral di permukaan, campuran bahan mineral dan bahan organik.
A2 E Horiosn eluviasi maksimum
A3 AB

EBPeralihan A1(A) ke B lebih menyerupai A1(A)

Peralihan dari A2 (E) ke B, lebih menyerupai A2(E)B1BA

BEPeralihan dari A1(A) ke B, lebih menyerupai B

Peralihan dari A2(E) ke B, lebih menyerupai BB2Ba. horison iluviasi (penimbunan) liat, Fe, Al atau humus

b. konsentrasi (penimbunan) relatif dari seskuioksida (Fe, Al) karena Si tercuci

c. terdapat perubahan (alterasi) dari bahan induk misalnya (terbentuk mineral liat, oksida-oksida dibebaskan sehingga warnah menjadi lebih merah, terbentuk struktur tanah granuler, gumpal (blocky), prismatik dan lain-lain.B3BC

CBPerlihan dari B ke C lebih menyerupai B

Peralihan dari B ke C lebih menyerupai CCCBahan induk (regolit), lunakR (D)RBatuan induk, keras

Horison Peralihan

Horison peralihan diberi simbol dengan dua huruf besar dari masing-masing horison utama yang beralih sifat.

1. Horison AB (nama lama A3): yaitu horison peralihan dari A ke B, tetapi lebih menyerupai A

2. Horison EB (nama lama A3): horison peralihan dari E ke B tetapi lebih menyerupai E.

3. Horison BA (nama lama B1): horison peralihan dari E ke B, tetapi lebih menyerupai B.

4. Horison BC (nama lama B3): horison peralihan dari B ke C, tetapi lebih menyerupai B

Penjelasan diatas menunjukkan bahwa horison utama yang dominan selalu ditulis lebih dahulu. Selain itu perlu dijelaskan bahwa simbol horison peralihan tetap digunakan meskipun salah satu horison utamanya sudah tidak ada. Misalnya simbol horison AB tetap digunakan meskipun horison A telah hilang tererosi. Demikian pula simbol horison BC tetap digunakan meskipun horison C telah hilang berubah menuju ke horison B.

Kadang-kadang ditemukan horison peralihan yang terdiri dari dua horison utama misalnya akibat salah satu horison menyusup ke dalam horison yang lain. Untuk horison seperti ini simbol khusus perlu diberikan dengan garis miring di antara dua simbol horison yang bersangkutan.

1. Horison E/B: horison peralihan terdiri dari horison E dan horison B , volume horison E lebih banyak daripada horison B.

2. Horison B/E: horison peralihan terdiri dari horison B dan horison E, volume horison B lebih banyak daripada horison E.

3. Horison B/C: horison peralihan terdiri dari horison B dan horison C volume horison B lebih banyak dari pada horison C.

Satuan individu terkecil dalam 3 dimensi yang masih dapat disebut tanah dinamakan pedon. pedon berukuran antara 1-10 m2 sehingga cukup luas untuk dipelajari sifat-sifat dan susunan horizon tanah yang ada.

Karena kecilnya ukuran pedon maka pedon tidak dapat digunakan sebagai satuan dasar untuk pengelompokan tanah lapang. Oleh karena itu, untuk dasar pengelompokan tanah di lapangan dipergunakan polypedon yang merupakan kumpulan dari pedon yang mempunyai sifat-sifat yang sama dalam arti semua pedon tersebut masuk dalam satu seri tanah yang sama.

  1. Proses Pelapukan Batuan Dan Mineral

Tanah dapat barasal dari batuan keras (batuan beku, batuan sedimen tua, batuan metamorfosa) yang melapuk atau dari bahan-bahn yang lebih lunak dan lepas seperti abu volkan, bahan endapan baru dan lain-lain. Dengan proses pelapukan maka permukaan batuan yang keras menjadi hancur dan berubah menjadi bahan yang lunak yang disebut regolith.

Proses pelapukan mencakup beberapa hal yaitu pelapukan secara fisik, biologok-mekanik, dan kimia.

  1. Pelapukan Secara Fisik

Pelapukan secara fisik yang terpenting adalah akibat naik turunnya suhu dan perbedaan kemampuan memulai (mengembang) dan mengerut dari masing-masing mineral. Di daerah dingin, bila air masuk dalam batuan berubah menjadi es akibat suhu yang sangat rendah, maka karena volume es lebih besar dari volume air, juga dapat menyebabkan pecahnya batu-batuan. Pengangkutan batuan dari suatu tempat ketempat lain oleh air juga dapat menyebabkan pelapukan batuan secara fisik.

  1. Pelapukan Secara Biologic-Mekanik

Akar-akar yang masuk ke dalam batuan melalui retakan-retakan batuan dapat terus berkembang dengan kekuatan yang sangat tinggi sehingga dapat menghancurkan batuan tersebut. Sel-sel akar tang berkembang dapat menimbulkan kekuatan lebih dari 10 atmosfer sehingga tidak mengherankan kalau batuan dapat menjadi hancur akibat perkembangan akar didalamnya.

  1. Pelapukan Secara Kimia

Hidrasi dan Dehidrasi.

Hidrasi (hidration) adalah reaksi kimia di mana molekul air terikat oleh senyawa-senyawa tertentu, CaSO4 + 2H2O à CaSO4 2H2O

sedang dehidrasi adalah hilangnya molekul air dari senyawa-senyawa tersebut.        CaSO4 2H2O à CaSO4 + 2H2O

Oksidasi dan Reduksi

Oksidasi adalah suatu proses dimana electron-elektron atau muatan listrik negative menjadi berkurang. Reduksi berarti penambahan electron. Oksidasi berlangsung baik bila oksigen cukup tersedia, sedang reduksi akan berjalan bila tidak ada oksigen (pada tanah yang tergenang).

Fe++ à Fe+++ + e-    (oksidasi)

Fe+++ + e- à Fe++    (reduksi)

Hidrolisis terjadi karena adanya penggantian kation-kation dalam struktur Kristal oleh hydrogen sehingga struktur Kristal rusak dan hancur.

K Al Si3 O8 + H+ —- H Al Si3 O8 + K+ feldspar

Pelarutan (solution) pelarut terjadi pada garam-garam sederhana seperti karbonat, klorida, dan lain-lain. CaCO3 + 2H+ —- H2 CO3 + Ca++

  1. Pembentukan Profil Tanah

Dalam pembentukan tanah selanjutnya terjadilah berbagai proses pembentukan tanah. Proses pembentukan tanah tersebut menyangkut beberapa hal, yaitu:

Penambahan bahan-bahan dari tempat lain ke tanah misalnya, penambahan air hujan, embun, O2, N, Cl, S dan CO2 dari atm, curah hujan, bahan organik dari sisa tanaman/hewan, bahan endapan, dan energy sinar matahari.

Kehilangan bahan-bahan yang ada ditanah, misalnya, kehilangan air melalui penguapan(evapotranspirasi), kehilangan N melalui proses denitrifikas, kehilangan C (bahan organic) sebagai CO2 karena dekomposisi bahan organic, kehilangan tanah karena erosi, kehilangan energy karena radiasi.

Perubahan bentuk (transformation) misalnya, perubahan bahan organic kasar menjadi humus, penghancuran pasir menjadi debu lalu liat, pembentukan struktur tanah, pelapukan mineral dan pembebtukan mineral liat, pembentukan konkresi.

Pemindahan solum misalnya, pemindahan liat, bahan organic, Fe, Al dari lapisan atas ke lapisan bawah.

Tabel. Beberapa contoh Proses Pembentukan Tanah

No Proses Penjelasan
1 a. Eluviasi

b. Iluviasi(4)* Pemindahan bahan-bahan tanah dari satu horison ke horison lain.

(4) Penimbunan bahan-bahan tanah dalam suatu horison2a. Leaching

b. Enrichment(2) Pencucian basa-basa (unsur hara) dari tanah

(1) Penambahan basa-basa (unsur hara) dari tempat lain.3a. Dekalsifikasi

b. Kalsifikasi(4) Pemindahan CaCO3 dari tanah atau suatu horison tanah.

(4) Penimbunan CaCO3dalam suatu horison tanah4a. Desalinisasi

b. Salinisasi(4) Pemindahan garam-garam mudah larut dari tanah atau suatu horison tanah.

(4) Pemindahan garam-garam mudah larut dalam suatu horison tanah5a.Dealkalinisasi (solodisasi)

b.Alkalinisasi (solonisasi)(4) Pencucian ion-ion Na dalam suatu horison tanah.

(4) Akumulasi ion-ion Na dalam suatu horison tanah6a. Lessivage

b. Pedoturbasi(4) Pencucian (pemindahan) liat dari suatu horison ke horison lain dalam bentuk suspensi (secara mekanik). Dapat terbentuk tanah ultisol (podsolik) atau alfisol.

(4) Pencampuran secara pisik atau biologik beberapa horison tanah sehingga horison-horison tanah yang telah terbentuk menjadi hilang, terjadi pada tanah-tanah vertisol (grumosol)7a.Podzolisasi (Silikasi)

b.Desilikasi (feralisasi, laterisasi, latolisasi(3,4) Pemindahan Al an Fe dan atau bahan organik dari suatu horison ke horison lain secara kimia. Si tidak ikut tercuci sehingga pada horison yang tercuci meningkat konsentrasinya. Dapat terbentuk tanah spodosol (podzol)

(3,4) Pemindahan silika secara kimia keluar dari solum tanah sehingga konsentrasi Fe dan Al meningkat secara relatif. Terjadi di daerah tropika dimana curah hujan dan suhu tinggi sehingga Si mudah larut. Dapat terbentuk tanah oxisol (laterit, latosol)8a. Melanisasi

b. Leusinasi(1,4) Pembentukan warna hitam (gelap) pada tanah karena pencampuran bahan organik dengan bahan mineral. Dapat terbentuk tanah Mollisol.

(4) Pembentukan horison pucat karena pencucian bahan organik.9a.Braunifikasi, rubifikasi, Feruginasi

b. Gleisasi(3,4) Pelepasan besi dari mineral primer dan disperdi partikel-partikel besi oksida yang makin meningkat. Berdasar besarnya oksida dan hidrasi dari besi oksida tersebutmaka dapat menjadi coklat(braunifikasi), coklat kemerahan (rubifikasi) dan merah (feruginasi).

(3,4) Reduksi besi karena keadaan anaerobik (tergenang air) sehingga terbentuk warna kebiruan atau kelabu kehijauan.10a. Littering

b. Humifikasi(1) Akumulasi bahan organik setebal kurang dari 30 cm dipermukaan tanah mineral.

(3) Perubahan bahan organik kasar menjadi humus

Keterangan *

(1): Penambahan bahan ke tanah

(2) kehilangan bahan dari tanah

(3) Perubahan bentuk (transformasi)

(4) Pemindahan dalam tanah (translokation)

  1. Disintegrasi dan Sintesis

Disintegrasi terjadi dalam proses pelapukan mineral dalam batuan sehingga mineral dan batuannya hancur dan unsur-unsur penyusunnya terlepas dari mineral tersebut. Selanjutnya terjadilah proses sintesis (pembentukan) mineral baru (mineral sekunder) yang berupa mineral liat dari senyawa-senyawa hasil disintegrasi tersebut.

Dengan adanya pelapukan (disintegrasi) batuan maka tersedialah unsur-unsur hara dari mineral yang lapuk sehingga tanaman dari hewan-hewan sederhana mulai tumbuh. Pelapukan mineral-mineral primer juga menghasilkan mineral-mineral liat (suatu proses sintesis) yang mampu menahan unsure hara dan air yang amat penting bagi pertumbuhan tanaman.

  1. Organisme dan Bahan Organik

Sisa tanaman atau binatang mula-mula tetap berada diatas(disebut horizon O) atau didalam tanah. Setelah sisa-sisa organisme ini tercampur dengan bagian mineral tanah akibat kegiatan organisme hidup. Maka awal dari pembentukan horizon-horison tanah terjadi. Tanah lapisan atas ini menjadi berwarna lebih gelap dan terbentuk struktur tanah yang lebih stabil sebagai pengarih dari bahan organic tersebut (disebut horizon A).

  1. Siklus Unsur Hara

Organism hidup dan air tanah bersama-sama telah membantu menetapkan nisbah asam-basa dalam larutan tanah. Unsure-unsur hara tanaman diserap oleh tanaman dari tanah ke bagian atas tanaman, kemudian dilepaskan lagi melalui sisa-sisa tanaman yang jatuh di permikaan tanah, dan masuk kedalam tanah kembali bersama air perkolasi, dan siap untuk diserap oleh tanaman kembali. Siklus unsure hara membantu mengontrol keseimbangan asam-basa dan larutan bahan-bahan yang melapuk dalam horizon tanah yan terbentuk.

  1. Peranan Air

Air tanah selalu aktif semenjak permulaan dalam membantu proses pembentukan horizon-horison tanah. Air penting untuk pertumbuhan tanaman dan reaksi-reaksi kimia dalam pelapukan mineral. Air perkolasi membantu siklus unsure hara dan pemindahan liat, oksida besi dan aluminium, garam-garam dll. Di daerah kering gerakan air ke atas (kapiler), menyebabkan terjadinya akumulasi garam dipermikaan tanah.

  1. Tanah Sebagai Sistem Terbuka

Tanah merupakan system terbuka, artinya sewaktu-waktu tanah itu dapat menerima tambahan bahan dari luar.

  1. Faktor-Faktor Pembentukan Tanah

Ilmu yang mempelajari proses-proses pembentukan tanah mulai dari bahan induk disebit ganesa tanah. Banyak factor yang mempengaruhi proses pembentukan tanah, tetapi hanya lima factor yang dianggap paling penting yaitu:

Iklim

Merupakan factor yang paling penting dalam proses pembentukan tanah. Suhu dan curah hujan sangat berpengaruh terhadap intensitas reaksi kimia dan fisika dalam tanah. Setiap suhu naik 100C maka kecepatan reaksi menjadi dua kali lipat. Reaksi-reaksi oleh mkroorganisme juga sangat dipengaruhi oleh suhu tanah.

  • SuhuJika suhu semakin tinggi maka makin cepat pula reaksi kimia berlangsung
    • Curah Hujan Makin tinggi curah hujan, makin tinggi pula tingkat keasaman tanah

Organisme

Akumulasi bahan organic, siklus unsure hara, dan pembentukan struktur tanah yang stabil sangat dipengaruhi oleh kegiatan organism dalam tanah. Semua makhluk hidup berpengaruh. Baik itu jasad renik, tumbuhan, hewan bahkan manusia. Bahan organaik berpengaruh dalam pembentukan warna dan zat hara dalam tanah.

Bahan induk

Susunan kimia dan mineral bahan induk tidak hanya mempengaruhi intensitas tingkat pelapukan, tetapi kadang-kadang menentukan jenis vegetasi alami yang tumbuh di atasnya. Terdapatnya batu kapur di daerah humid akan menghambat tingkat kemasaman tanah. Di asamping itu, vegetasi yang hidup di atas tanah berasal dari batu kapur biasanya banyak mengandung basa-basa. Dengan adanya pengembalian basa-basa lapisan tanah atas melalui serasah dari vegetasi tersebut maka proses pengasaman tanah menjadi lebih lambat.

Batu-batuan di mana bahan induk tanah berasal dapat dibedakan menjadi:

  1. Batuan beku, terbentuk karena magma yang membeku
  2. Batuan sedimen, batuan endapan tua yang telah diendapkan brjuta tahun yang lalu hingga telah membentuk batuan yang keras
  3. Batuan metamorfosa(malihan), berasal dari batuan beku atau sedimen yang karena tekanan dan suhu sangat tinggi berubah menjadi jenis batuan lain.
  4. Bahan induk organik

Topografi

Relief adalah perbedaan tinggi atau bentuk wilayah suatu daerah termasuk didalamnya perbedaan kecuraman dan bentuk lereng. Relief mempengaruhi proses pembentukan tanah dengan cara :

  1. Mempengaruhi jumlah air hujan yang meresap atau ditahan masa tanah
  2. Mempengaruhi dalamnya air tanah
  3. Mempengaruhi besarnya erosi
  4. Mengarahkan gerakan air berikut bahan-bahan yang terlarut di dalamnya.

Tebal atau tipisnya lapisan tanah daerah yang memiliki topografi miring dan berbukit lapisan tanahnya lebih tipis karena tererosi, sedangkan daerah yang datar lapisan  tanahnya tebal  karena terjadi sedimentasi. Sistem drainase/pengaliran daerah yang drainasenya jelek seperti sering tergenang menyebabkan tanahnya menjadi asam.

Topografi alam dapat mempercepat atau memparlambat kegiatan iklim. Misalnya pada topografi miring membuat kecepatan air tinggi dan dapat meyebabkan terjadinya erosi.

Waktu

Tanah merupakan benda alam yang terus-menerus berubah dinamis) sehingga akibat pelapukan dan pencucian yang terus-menerus maka tanah-tanah yang semakin tua juga semakin kurus. Mineral yang banyak mengandung unsure hara telah habis mengalami pelapukan sehingga tinggal mineral yang sukar lapuk separti kuarsa. Profil tanah juga semakin berkembang dengan meningkatnya umur.

Karena proses pembentukan tanah yang terus berjalan bahan induk tanah berubah berturut-turut menjadi: tanah muda (immature atau young soil), tanah dewasa (mature soil) dan tanah tua (old soil). Lamanya bahan induk mengalami pelapukan dan perkembangan tanah memainkan peran penting dalam menentukan jenis tanah yang terbentuk

BAB IV

SIFAT-SIFAT FISIK DAN MORFOLOGI TANAH

Sifat morfologi tanah adalah sifat-sifat tanah yang dapat diamati dan dipelajari di lapang. Sebagian dari sifat-sifat morfologi tanah merupakan sifat-sifat fisik dari tanah tersebut.

  1. 1.      Batas-Batas Horison

Batas suatu horizon dengan horizon lainnya dalam suatu profil tanah dapat terlihat jelas atau baur. Dalam pengamatan tanah di lapang ketajaman peralihan horizon-horison ini dibedakan dalam beberapa tingkatan yaitu nyata (lebar peralihan kurang dari 2,5 cm), jelas (lebar peralihan 2,5-6,5 cm), berangsur (lebar peralihan 6,5-12,5 cm) dan baur (lebar peralihan lebih dari 12,5 cm) di samping itu, bentuk topografi dari batasan horizon tersebut dapat rata, berombak, tidak teratur atau terputus.

  1. 2.      Warna Tanah

Warna tanah merupakan ciri utama yang paling mudah untuk mendeterminasi tanah.

Menurut Hardjowigeno (1992) bahwa warna tanah berfungsi sebagai penunjuk dari sifat tanah, karena warna tanah dipengaruhi oleh beberapa faktor yang terdapat dalam tanah tersebut. Penyebab perbedaan warna permukaan tanah umumnya dipengaruhi oleh perbedaan kandungan bahan organik. Makin tinggi kandungan bahan organik, warna tanah makin gelap. Sedangkan dilapisan bawah, dimana kandungan bahan organik umumnya rendah, warna tanah banyak dipengaruhi oleh bentuk dan banyaknya senyawa Fe dalam tanah.

Di daerah berdrainase buruk, yaitu di daerah yang selalu tergenang air, seluruh tanah berwarna abu-abu karena senyawa Fe terdapat dalam kondisi reduksi (Fe2+). Pada tanah yang berdrainase baik, yaitu tanah yang tidak pernah terendam air, Fe terdapat dalam keadaan oksidasi (Fe3+) misalnya dalam senyawa Fe2O3 (hematit) yang berwarna merah, atau Fe2O3. 3 H2O (limonit) yang berwarna kuning cokelat. Sedangkan pada tanah yang kadang-kadang basah dan kadang-kadang kering, maka selain berwarna abu-abu (daerah yang tereduksi) didapat pula becak-becak karatan merah atau kuning,yaitu di tempat-tempat dimana udara dapat masuk, sehingga terjadi oksidasi besi ditempat tersebut. Keberadaan jenis mineral kwarsa dapat menyebabkan warna tanah menjadi lebih terang.

Penetapan Warna:

Warna tanah ditetapkan pada kandungan air tanah standar; kering (daerah arid), lembab (daerah humid). Penetapan warna tanah perlu dibandingkan pada berbagai kondisi intensitas dan kualitas cahaya. Pada suatu horizon dapat dijumpai lebih dari satu warna (warna dominan adalah warna yang meliput lebih 50% volume tanah). Warna tanah ditentukan dengan membandingkan warna tanah tersebut dengan warna standar pada buku Munsell Soil Color Chart. Diagram warna baku ini disusun tiga variabel, yaitu: (1) hue, (2) value, dan (3) chroma

  • Hue adalah warna spectrum yang dominan sesuai dengan panjang gelombangnya.
  • Value menunjukkan gelap terangnya warna, sesuai dengan banyaknya sinar yang dipantulkan.
  • Chroma
    menunjukkan kemurnian atau kekuatan dari warna spektrum. Chroma didefiniskan juga sebagai gradasi kemurnian dari warna atau derajat pembeda adanya perubahan warna dari kelabu atau putih netral (0) ke warna lainnya (19).

Berdasarkan buku Munsell Saoil Color Chart

  • Nilai Hue dibedakan menjadi: (1) 5 R; (2) 7,5 R; (3) 10 R; (4) 2,5 YR; (5) 5 YR; (6) 7,5 YR; (7) 10 YR; (8) 2,5 Y; dan (9) 5 Y, yaitu mulai dari spektrum dominan paling merah (5 R) sampai spektrum dominan paling kuning (5 Y), selain itu juga sering ditambah untuk warna-warna tanah tereduksi (gley) yaitu: (10) 5 G; (11) 5 GY; (12) 5 BG; dan (13) N (netral).
  • Value dibedakan dari 0 sampai 8, yaitu makin tinggi value menunjukkan warna makin terang (makin banyak sinar yang dipantulkan). Nilai Value pada lembar buku Munsell Soil Color Chart terbentang secara vertikal dari bawah ke atas dengan urutan nilai 2; 3; 4; 5; 6; 7; dan 8. Angka 2 paling gelap dan angka 8 paling terang.
  • Chroma juga dibagi dari 0 sampai 8, dimana makin tinggi chroma menunjukkan kemurnian spektrum atau kekuatan warna spektrum makin meningkat. Nilai chroma pada lembar buku Munsell Soil Color Chart dengan rentang horisontal dari kiri ke kanan dengan urutan nilai chroma: 1; 2; 3; 4; 6; 8. Angka 1 warna tidak murni dan angka 8 warna spektrum paling murni.
  1. 3.      Tekstur

Tekstur tanah merupakan sifat menggambarkan kasar halusnya tanah dalam perabaan yang ditentukan oleh perbandingan berat fraksi-fraksi penyusunnya. Suatu fraksi yang dominan pada suatu tanah akan menentukan ciri dan jenis yang bersangkutan.

Tanah yang bertekstur pasir mempunyai luas permukaan yang kecil sehingga sulit menyimpan atau menyerap air dan unsur hara. Tanah yang bertekstur lempung atau liat mempunyai luas permukaan yang besar sehingga kemampuan menahan air dan menyediakan unsur hara sangat tinggi. Tekstur tanah ringan yaitu tanah yang didominasi fraksi pasiran lebih mudah diolah dibandingkan dengan tekstur berat yang didominasi fraksi lempung.

Bahan- bahan tanah meliputi:

-          Pasir : 2mm – 50 u

-          Debu : 50u – 2u

-          Liat : < 2u

-          Lebih dari 2mm disebut bahan kasar (kerikil sampai batu)

Tekstur tanah dapat digolongkan :

  1. Apabila terasa kasar, berarti pasir, pasir berlempung
  2. Apabila terasa agak kasar, berarti lempung berpasir, lempung berpasir halus
  3. Apabila terasa sedang, berari lempung berpasir sangat halus, lempung, lempung berdebu, debu
  4. Agak halus, berarti  lempung liat, lempung liat berpasir, lempung liat berdebu
  5. Halus, berari liat berpasir, liat berdebu, liat

Di lapangan tekstur tanah dapat ditentukan dengan memijit tanah basah di antara jari-jari, sambil dirasakan  halus kasarnya yaitu dirasakan adanya butir-butir pasir debu dan liat, sebagai berikut:

Pasir:

-          Rasa kasar sangat jelas

-          Tidak melekat

-          Tidak dapat dibentuk bola dan gulungan

Pasir berlempung:

-          Rasa kasar jelas

-          Sedikit sekali melekat

-          Dapat dibentuk bola, mudah hancur

Lempung berpasir:

-          Rasa kasar agak jelas

-          Agak melekat

-          Dappat dibuat bola, mudah hancur

Lempung:

-          Rasa tidak kasar dan tidak licin

-          Agak melekat

-          Dapat dibentuk bola agak teguh, dapat sedikit dibuat gulungan dengan permukaan mengkilat

Lempung berdebu:

-          Rasa licin

-          Agak melekat

-          Dapat dibentuk bola agak teguh, gulungan dengan permukaan mengkilat

Debu:

-          Rasa licin sekali

-          Agak melekat

-          Dapat dibentuk bola teguh, dapat dibentuk gulungan dengan permukaan membulat

Lempung berliat:

-          Rasa agak licin

-          Agak melekat

-          Dapat dibentuk bola agak teguh, dapat dibentuk gulungan yang agak mudah hancur

Lempung liat berpasir:

-          Rasa halus dengan sedikit bagian agak kasar

-          Agak melekat

-          Dapat dibentuk bola agak teguh, dapat dibentuk gulungan mudah hancur

Lempung liat berdebu:

-          Rasa halus agak licin

-          Melekat

-          Dapat dibentuk bola teguh, gulungan mengkilat

Liat berpasir:

-          Rasa halus, berat tetapi tersa sedikit kasar

-          Melekat

-          Dapat dibentuk bola teguh, mudah di gulung

Liat berdebu:

-          Rasa halus, berat, agak licin

-          Sangat lekat

-          Dapat dibentuk bola teguh, mudah di gulung

Liat:

-          Rasa berat, halus

-          Sangat lekat

-          Dapat dibentuk bola dengan baik, mudah digulung

4.   Struktur Tanah

Struktur tanah merupakan sifat fisik tanah yang menggambarkan susunan ruangan partikel-partikel tanah yang bergabung satu dengan yang lain membentuk agregat dari hasil proses pedogenesis.

Struktur ini terjadi karena butir-butir pasir, debu dan liat terikat satu sama lain oleh suatu perekat seperti bahan organik, oksida-oksida besi dan lain-lain.

Ruang kosong yang besar antara agregat (makropori) membentuk sirkulasi air dan udara juga akar tanaman untuk tumbuh ke bawah pada tanah yang lebih dalam. Sedangkan ruangan kosong yang kecil ( mikropori) memegang air untuk kebutuhan tanaman. Idealnya bahwa struktur disebut granular.

Pengaruh struktur dan tekstur tanah terhadap pertumbuhan tanaman terjadi secara langsung. Struktur tanah yang remah (ringan) pada umumnya menghasilkan laju pertumbuhan tanaman pakan dan produksi persatuan waktu yang lebih tinggi dibandingkan dengan struktur tanah yang padat.

Macam macam struktur tanah

1.   Struktu tanah berbutir (granular): Agregat yang membulat, biasanya diameternya tidak lebih dari 2 cm. Umumnya terdapat pada horizon A yang dalam keadaan lepas disebut “Crumbs” atau Spherical.

2.   Kubus (Bloky): Berbentuk jika sumber horizontal sama dengan sumbu vertikal. Jika sudutnya tajam disebut kubus (angular blocky) dan jika sudutnya membulat maka disebut kubus membulat (sub angular blocky). Ukuranya dapat mencapai 10 cm.

3.   Lempeng (platy): Bentuknya sumbu horizontal lebih panjang dari sumbu vertikalnya. Biasanya terjadi pada tanah liat yang baru terjadi secara deposisi (deposited).

4.   Prisma: Bentuknya jika sumbu vertikal lebih panjang dari pada sumbu horizontal. Jadi agregat terarah pada sumbu vertikal. Seringkali mempunyai 6 sisi dan diameternya mencapai 16 cm. Banyak terdapat pada horizon B tanah berliat. Jika bentuk puncaknya datar disebut prismatik dan membulat disebut kolumner.

Tanah dengan struktur baik (granuler, remah) mempunyai tata udara yang baik, unsur-unsur hara lebih mudah tersedia dan mudah diolah. Struktur tanah yang baik adalah yang bentuknya membulat sehingga tidak dapat saling bersinggungan dengan rapat. Akibatnya pori-pori tanah banyak terbentuk. Di samping itu struktur tanah harus tidak mudah rusak (mantap) sehingga pori-pori tanah tidak cepat tertutup bila terjadi hujan.

5. konsistensi

Konsistensi tanah menunjukkan kekuatan gaya kohesi butir tanah atau daya adhesi butir-butir tanah dengan benda. Hal ini ditunjukkan oleh daya tahan terhadap gaya yang mengubah bentuk. Gaya-gaya tersebut misalnya pencangkulan. Pembajakan dan sebagainya. Tanah-tanah yang menpunyai konsistensi baik umumnya mudah diolah dan tidak melekat pada alat pengolah tanah.

Dalam keadaan lembab, tanah dibedakan kedalam konsistensi gembur (mudah diolah) sampai teguh (agak sulit dicangkul).

Dalam keadaan kering, tanah dibedakan kedalam konsistensi lunak sampai keras. Dalam keadaan basah dibedakan plastisitasnya yaitu dari plastis sampai tidak plastis atau kelekatannya yaitu dari tidak lekat sampai lekat.

Tanah basah    : kandungan air di atas kapasitas lapang.

a.  Tingkat Kelekatan, yaitu menyatakan tingkat kekuatan daya adhesi antara butir-butir tanah dengan benda lain, ini dibagi 4 kategori:

1.      Tidak Lekat (Nilai 0): yaitu dicirikan tidak melekat pada jari tangan atau benda lain.

2.      Agak Lekat (Nilai 1): yaitu dicirikan sedikit melekat pada jari tangan atau benda lain.

3.       Lekat (Nilai 2): yaitu dicirikan melekat pada jari tangan atau benda lain.

4.      Sangat Lekat (Nilai 3): yaitu dicirikan sangat melekat pada jari tangan atau benda lain.

b.  Tingkat Plastisitas, yaitu menunjukkan kemampuan tanah membentuk gulungan, ini dibagi 4 kategori berikut:

  1. Tidak Plastis (Nilai 0): yaitu dicirikan tidak dapat membentuk gulungan tanah.
  2. Agak Plastis (Nilai 1): yaitu dicirikan hanya dapat dibentuk gulungan tanah kurang dari 1 cm.
  3. Plastis (Nilai 2): yaitu dicirikan dapat membentuk gulungan tanah lebih dari 1 cm dan diperlukan sedikit tekanan untuk merusak gulungan tersebut.
  4. Sangat Plastis (Nilai 3): yaitu dicirikan dapat membentuk gulungan tanah lebih dari 1 cm dan diperlukan tekanan besar untuk merusak gulungan tersebut.

Tanah lembab  : kandungan air mendekati kapasitas lapang

Pada kondisi kadar air tanah sekitar kapasitas lapang, konsistensi dibagi 6 kategori sebagai berikut:

  1. Lepas (Nilai 0): yaitu dicirikan tanah tidak melekat satu sama lain atau antar butir tanah mudah terpisah (contoh: tanah bertekstur pasir).
  2. Sangat Gembur (Nilai 1): yaitu dicirikan gumpalan tanah mudah sekali hancur bila diremas.
  3. Gembur (Nilai 2): yaitu dicirikan dengan hanya sedikit tekanan saat meremas dapat menghancurkan gumpalan tanah.
  4. Teguh / Kokoh (Nilai 3): yaitu dicirikan dengan diperlukan tekanan agak kuat saat meremas tanah tersebut agar dapat menghancurkan gumpalan tanah.
  5. Sangat Teguh / Sangat Kokoh (Nilai 4): yaitu dicirikan dengan diperlukannya tekanan berkali-kali saat meremas tanah agar dapat menghancurkan gumpalan tanah tersebut.
  6. Sangat Teguh Sekali / Luar Biasa Kokoh (Nilai 5): yaitu dicirikan dengan tidak hancurnya gumpalan tanah meskipun sudah ditekan berkali-kali saat meremas tanah dan bahkan diperlukan alat bantu agar dapat menghancurkan gumpalan tanah tersebut

Tanah kering   : tanah dalam keadaan kering angin

Penetapan konsistensi tanah pada kondisi kadar air tanah kering udara, ini dibagi 6 kategori sebagai berikut:

  1. Lepas (Nilai 0): yaitu dicirikan butir-butir tanah mudah dipisah-pisah atau tanah tidak melekat satu sama lain (misalnya tanah bertekstur pasir).
  2. Lunak (Nilai 1): yaitu dicirikan gumpalan tanah mudah hancur bila diremas atau tanah berkohesi lemah dan rapuh, sehingga jika ditekan sedikit saja akan mudah hancur.
  3. Agar Keras (Nilai 2): yaitu dicirikan gumpalan tanah baru akan hancur jika diberi tekanan pada remasan atau jika hanya mendapat tekanan jari-jari tangan saja belum mampu menghancurkan gumpalan tanah.
  4. Keras (Nilai 3): yaitu dicirikan dengan makin susah untuk menekan gumpalan tanah dan makin sulitnya gumpalan untuk hancur atau makin diperlukannya tekanan yang lebih kuat untuk dapat menghancurkan gumpalan tanah.
  5. Sangat Keras (Nilai 4): yaitu dicirikan dengan diperlukan tekanan yang lebih kuat lagi untuk dapat menghancurkan gumpalan tanah atau gumpalan tanah makin sangat sulit ditekan dan sangat sulit untuk hancur.
  6. Sangat Keras Sekali / Luar Biasa Keras (Nilai 5): yaitu dicirikan dengan diperlukannya tekanan yang sangat besar sekali agar dapat menghancurkan gumpalan tanah atau gumpalan tanah baru bisa hancur dengan menggunakan alat bantu (pemukul).

Batas melekat  : kadar air dimana tanah mulai tidak daapat melekat pada benda           lain.

Batas menggolek: kadar air dimana gulungan tanah mulai tidak dapat digolek-golekkan.

Jangka olah     : menunjukkan besarnya kandungan air pada batas melekat dengan batas menggolek.

Indeks plastisitas (plasticity index): menunjukkan perbedaan kadar air pada batas mengalir dengan menggolek.

Batas ganti warna (titik ubah): tanah yang telah mengalami batas menggolek, masih dapat terus kehilangan air, sehingga lambat laun menjadi kering dan pada suatu ketika tanah menjadi berwarna lebih terang.

6.      Drainase Tanah

Drainase Tanah:adalah lamanya kondisi tergenang / jenuh air, bukan merupakan ukuran berapa cepat air terbuang dari tanah air dapat hilang melalui permukaan tanah maupun melalui peresapan ke dalam tanah. Berdasarkan atas klas drainasenya, tanah dibedakan menjadi klas drainase terhambat(tergenang) sampai sangat cepat (air sangat cepat hilang dari tanah).

Klas drainase ditentukan di lapang dengan melihat adanya gejala-gejala pengaruh air dalam penampang tanah. Gejala-gejala tersebut antara lain adalah warna pucat, kelabu, atau adanya becak-becak karatan. Warna pucat atau kelabu kebiru-biruan menunjukkan adanya pengaruh genangan air yang kuat, sehingga merupakan petunjuk adanya tanah berdrainase buruk. Adanya karatan menunjukkan bahwa udara masih dapat masuk ke dalam tanah setempat-setempat sehingga terjadi oksidasi di tempat tersebut dan terbentuk senyawa- senyawa Fe+++ yang berwarna merah. Bila air tidak pernah menggenang sehingga tata udara dalam tanah selalu baik, maka seluruh profil tanah dalam keadaan oksidasi (Fe+++). Oleh karena itu seluruh tanah umumnya berwarna merah atau cokelat.

Keadaan drainase tanah menentukan jenis tanaman yang dapat tumbuh. Sebagai contoh, padi dapat hidup pada tanah-tanah dengan drainase buruk, tatapi jagung, karet, cengkeh, kopi dan lain-lain tidak akan dapat tumbuh dengan baik kalau tanah selalu tergenang air.

7.      Bulk Density (Kerapatan Lindak)

Bulk density atau kerapatan lindak atau bobot isi menunjukkan perbandingan antara berat tanah kering dengan volume tanah termasuk volume poro-pori tanah.

Bulk density merupakan petunjuk kepadatan tanah. Makin padat suatu tanah makin tinggi bulk density, yang berarti makin ditembus akar tanaman. Pada umumnya bulk density berkisar dari 1,1-1,6 g/cc. bebeapa jenis tanah mempunyai bulk density kurang dari 0,90 g/cc (misalnya tanah andosol), bahkan ada yang kurang dari 0,10 g/cc (misalnya tanah gambut).

8.      Pori-Pori Tanah

Pori-pori tanah adalah bagian yang tidak terisi bahan pada tanah (terisi oleh udara atau air). Pori-pori tanah dapat dibedakan menjadi pori-pori kasar (macro pore) dan pori-pori halus (micro pore). Pori-pori kasar berisi udara atau air gravitasi (air yang mudah hilang karena gaya gravitasi), sedang pori-pori halus berisi air kapiler atau udara. Tanah- tanah pasir mempunyai pori-pori kasar lebih banyak daripada tanah liat. Tanah dengan banyak pori-pori kasar sulit menahan air sehingga tanaman mudah kekeringan.

Porositas tanah dipengaruhi:

-          Kandungan bahan organic

-          Struktur tanah

-          Tekstur tanah

Porositas tanah tinggi kalau bahan organik tinggi,  tanah-tanah dengan struktur granuler ataau remah, mempunyai porositas yang lebih tinggi daripada tanah-tanah dengan struktur massive (pejal). Tanah dengan tekstur pasir banyak mempunyai pori-pori makro sehingga sulit untuk menahan air.

9.      Potensi Mengembang Dan Mengerut

Beberapa tanah mempunyai sifat mengembang (bila basah) dan mengerut (bila kering). Akibatnya pada musim kering karena tanah mengerut maka terjadi pecah-pecah. Sifat mengembang dan mengerutnya tanah disebabkan oleh kandungan mineral liat montmorillonit yang tinggi. Besarnya pengembangan dari pengerutan tanah dinyatakan dalam nilai COLE (Co efficient Of Linear Extensibility) atau PVC (Potential Volume Change = Swell Index = indeks pengembangan). Istilah COLE banyak digunakan dalam bidang ilmu tanah (pedology) sedang pvc digunakan dalam bidang engineering (pembuatan jalan, gedung-gedung dan sebagainya).

Lm       = panjang contoh tanah lembab

Ld       = panjang contoh tanah kering oven

Atau

Dbd     = bulk density tanah kering oven

Dbm    = bulk density tanah lembab

Pentingnya nilai COLE:

  • Jika COLE > 0,09 menunjukkan bahwa tanah mengembang dan mengerut dengan nyata, kandungan montmorillonit tinggi.
  • Jika COLE > 0,03 menunjukkan bahwa didalam tanah ditemukan mineral liat montmorillonit agak tinggi.

10.  Kematangan Tanah

Nilai-n (n-value) merupakan nilai untuk menunjukkan tingkat kematangan tanah. Tanah yang belum matang adalah tanah-tanah yang seperti lumpur cair sehingga bila tanah diremas akan mudah sekali keluar dari genggaman melalui sela-sela jari.

Nilai-n dapat dihitung dengan rumus berikut.

A         = kadar air tanah dalam keadaan lapang

R          = persen debu + Pasir

L          = persen liat

H         = persen bahan organic (% C x 1,724)

n > 1                mentah, tanah encer seperti bubur, mudah lewat disela-sela jari kalau diperas. Tanah selalu jenuh air. Kemampuan menyangga beban sangat rendah, penyusutan besar.

n = 0,7-1          agak matang. Tanah agak sulit lewat sela-sela jari bila diperas. Selalu jenuh air.

n 0,7                matang, tanah tidak dapat lewat sela-sela jari bila diperas. Kelembaban tanah kadang-kadang kurang dari kapasitas lapang.

11.  Sifat-sifat lain

Untuk dapat menentukan kesesuaian tanah bagi bermacam-macam penggunaan maka disamping sifat-sifat tanah yang telah diuraikan di muka, perlu diamati pula sifat-sifat tanah lain serta keadaan lingkungannya, misalnya:

1. Keadaan batuan

Terdapatnya batu-batu baik di permukaan tanah maupun di dalam tanah dapat mengganggu perakaran tanaman serta mengurangi kemampuan tanah untuk berbagai penggunaan. Karena itu jumlah dan ukuran batuan yang di temukan perlu dicatat dengan baik.

2. Padas(pan)

Padas merupakan bagian tanah yang mengeras dan padat sehingga tidak dapat ditembus akar tanaman ataupun air. Karena itu dalam penyifatan tanah di lapang dalamnya padas dan kekerasannya perlu diteliti.

3. Kedalaman efektif

Kedalaman efektif adalah kedalaman tanah yang masih dapat ditembus akar tanaman. Pengamatan kedalaman efektif dilakukan dengan mengamati penyebaran akar tanaman. Banyaknya perakaran, baik akar halus maupun akar kasar, serta dalamnya akar-akar tersebut dapat menembus tanah perlu diamati dengan baik.

4. Lereng

Keadaan lingkungan di luar solum tanah yang sangat besar pengaruhnya terhadap kesesuaian tanah (lahan) untuk berbagai penggunaan adalah lereng. Makin curam lereng kesesuaian lahan makin berkurang. Pada umumnya dianggap bahwa kemiringan lereng yang lebih dari 30% tidak cocok lagi untuk tanaman pangan. Lereng dapat berbentuk cembung, cekung atau rata dengan panjang yang berbeda.

Daftar Pustaka

Bahan kuliah dasar-dasar ilmu tanah oleh ir.Ajidirman.MP

Hardjowigeno, sarwono. 2010. Ilmu Tanah. Jakarta. Akademika pressindo

http://aditya-pandhu.blogspot.com/2010/03/proses-pembentukan-faktor-dan-jenis.html

http://id.shvoong.com/exact-sciences/agronomy-agriculture/2064228-bahan-penyusun-tanah/

http://id.wikipedia.org/wiki/Tanah

http://llmu-tanah.blogspot.com/2011/12/tekstur-tanah.html

http://jurnal-geologi.blogspot.com/2010/02/tanah-dan-pelapukan-biologi.html

http://noviaanggra.wordpress.com/2012/05/21/sifat-siat-fisik-dan-sifat-morfologi-tanah/

http://pustakabiolog.wordpress.com/2011/09/03/profil-tanah/

http://samrumi.blogspot.com/2011/03/proses-pembentukan-tanah.html

SARANA BERFIKIR ILMIAH

TUGAS

METODE ILMIAH

“SARANA BERFIKIR ILMIAH”

NAMA                          :  NOVIA ANJANI

NIM                            : D1B011027

KELAS                           :  AGRIBISNIS “D”

AGRIBISNIS

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS JAMBI

2012

SARANA BERFIKIR ILMIAH

Berfikir merupakan ciri utama bagi manusia. Berfikir disebut juga sebagai proses bekerjanya akal. Secara garis besar berfikir dapat dibedakan antara berfikir alamiah dan berfikir ilmiah. Berfikir alamiah adalah pola penalaran yang berdasarkan kehidupan sehari-hari dari pengaruh alam sekelilingnya. Berfikir ilmiah adalah pola penalaran berdasarkan sarana tertentu secara teratur dan cermat.

Bagi seorang ilmuan penguasaan sarana berfikir ilmiah merupakan suatu keharusan, karena tanpa adanya penguasaan sarana ilmiah, maka tidak akan dapat melaksanakan kegiatan ilmiah dengan baik. Sarana ilmiah pada dasarnya merupakan alat untuk membantu kegiatan ilmiah dengan berbagai langkah yang harus ditempuh.

Sarana ilmiah pada dasarnya merupakan alat yang membantu kegiatan ilmiah dalam berbagai langkah yang harus ditempuh. Untuk dapat melakukan kegiatan berpikir ilmiah dengan baik maka diperlukan sarana yang berupa bahasa, logika, matematika dan statistika, agar dalam kegiatan ilmiah tersebut dapat berjalan dengan baik, teratur dan cermat.

A. BAHASA

Bahasa memegang peranan penting dan suatu hal yang lazim dalam hidup dan kehidupan manusia. Kelaziman tersebut membuat manusia jarang memperhatikan bahasa dan menganggapnya sebagai suatu hal yang biasa, seperti bernafas dan berjalan. Menurut Ernest Cassirer, sebagaimana yang dikutip oleh Jujun, bahwa keunikan manusia bukanlah terletak pada kemampuan berpikir melainkan terletak pada kemampuan berbahasa (Jujun S. Suriasumantri dalam bakhtiar, 2010, 175).

Bahasa sebagai alat komunikasi verbal yang digunakan dalam proses berpikir ilmiah dimana bahasa merupakan alat berpikir dan alat komunikasi untuk menyampaikan jalan pikiran tersebut kepada orang lain. Baik pemikiran yang berlandasan induktif maupun deduktif. Dengan kata lain kegiatan berpikir ilmiah sangat erat kaitannya dengan bahasa.

Para ahli filsafat bahasa dan psikolinguitik melihat fungsi bahasa  sebagai sarana untuk menyampaikan pikiran , perasaan, dan emosi. Sedangkan aliran sisiolinguistik berpendapat bahwa fungsi bahasa adalah sarana untuk perubahan masyarakat. Walaupun terdapat perbedaan tetapi pendapat ini saling melengkapi satu sama lainnya. Secara umum dapat dinyatakan bahwa fungsi bahasa adalah :

1.      Koordinator kegiatan-kegiatan dalam masyarakat

2.      Penetapan pemikiran dan pengungkapan

3.      Penyampaian pikiran dan perasaan

4.      Penyenangan jiwa

5.      Pengurangan kegonjangan jiwa (Fathi Ali Yunus dalam bakhtiar, 2010, 180).

Kneller mengemukakan 3 fungsi bahasa yaitu :

1.      Simbolik → menonjol dalam komunikasi ilmiah

2.      Emotif    → menonjol dalam komunikasi estetik

3.      Afektif (George F. Kneller dalam jujun, 1990, 175).

Menurut Halliday sebagaimana yang dikutip oleh Thaimah bahwa fungsi bahasa adalah sebagai berikut :

1. Fungsi Instrumental : penggunaan bahasa untuk mencapai suatu hal

yang bersifat materi seperti makan, minum, dan sebagainya

2. Fungsi Regulatoris : penggunaan bahasa untuk memerintah dan

perbaikan tingkah laku

3. Fungsi Interaksional : penggunaan bahasa untuk saling mencurahkan

perasaan pemikiran antara seseorang dan orang lain

4. Fungsi Personal : seseorang menggunakan bahasa untuk mencurahkan perasaan dan pikiran

5. Fungsi Heuristik : penggunaan bahasa untuk  mengungkap tabir fenomena dan keinginan untuk mempelajarinya

6. Fungsi Imajinatif : penggunaan bahasa untuk mengungkapkan imajinasi

seseorang dan gambaran-gambaran tentang discovery seseorang dan tidak sesuai dengan realita (dunia nyata)

7. Fungsi Representasional : penggunaan bahasa untuk menggambarkan pemikiran dan wawasan serta menyampaikannya pada orang (Rushdi Ahmad Thaimah dalam bakhtiar, 2010, 181).

Untuk menelaah bahasa ilmiah perlu dijelaskan tentang pengolongan bahasa.  Ada dua pengolongan bahasa yang umumnya dibedakan yaitu :

  1. Bahasa alamiah yaitu bahasa sehari-hari yang digunakan untuk menyatakan sesuatu, yang tumbuh atas pengaruh alam sekelilingnya.
  2. Kedua bahasa buatan adalah bahasa yang disusun sedemikian rupa berdasarkan pertimbangan-pertimbangan akar pikiran untuk maksud tertentu.

 

B. LOGIKA

Logika berasal dari kata Yunani kuno (logos) yang berarti hasil pertimbangan akal pikiran yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa. Nama ‘logika’ untuk pertama kali muncul pada filsuf Cicero (abad ke-1 sebelum masehi), tetapi masih dalam arti ‘seni berdebat’. Alexander Aphrodisias (sekitar permulaan abad ke-3 sesudah masehi) adalah orang yang pertama kali menggunakan kata ‘logika’ dalam arti ilmu yang menyelidiki lurus tidaknya pemikiran kita.

 

Macam-macam logika:

* Logika alamiah adalah kinerja akal budi manusia yang berpikir secara tepat dan lurus sebelum dipengaruhi oleh keinginan-keinginan dan kecenderungan-kecenderungan yang subyektif. Kemampuan logika alamiah manusia ada sejak lahir.

* Logika ilmiah memperhalus, mempertajam pikiran serta akal budi. Logika ilmiah menjadi ilmu khusus yang merumuskan azas-azas yang harus ditepati dalam setiap pemikiran. Berkat pertolongan logika ilmiah inilah akal budi dapat bekerja dengan lebih tepat, lebih teliti, lebih mudah dan lebih aman. Logika ilmiah dimaksudkan untuk menghindarkan kesesatan atau, paling tidak, dikurangi.

 

Cara-cara berfikir logis dalam rangka mendapatkan pengetahuan baru yang benar:

 

Induksi adalah cara berfikir untuk menarik kesimpulan yang bersifat umum dari kasus-kasus yang bersifat individual. Penalaran ini diawali dari kenyataan-kenyataan yang bersifat khusus dan terbatas lalu diakhiri dengan pernyataan yang  bersifat umum.

Deduksi adalah cara berfikir dari pernyataan yang  bersifat umum menuju ke kesimpulan yang bersifat khusus, dengan demikian kegiatan berfikir yang berlawanan dengan induksi.

Analogi adalah cara berfikir dengan cara membuktikan dengan hal yang serupa dan sudah diketahui sebelumnya. Disini penyimpulan dilakukan secara tidak langsung, tetapi dicari suatu media atau penghubung yang mempunyai persamaan dan keserupaan dengan apa yang akan dibuktikan.

Komparasi adalah cara berfikir dengan cara membandingkan dengan sesuatu yang mempunyai kesamaan apa yang dipikirkan. Dasar pemikiran ini sama dengan analogi yaitu tidak langsung, tetapi penekanan pemikirannya ditujukan pada kesepadanan bukan pada perbedaannya.

 

Kegunaan logika

  1. Membantu setiap orang yang mempelajari logika untuk berpikir secara rasional, kritis, lurus, tetap, tertib, metodis dan koheren.
  2. Meningkatkan kemampuan berpikir secara abstrak, cermat, dan objektif.
  3. Menambah kecerdasan dan meningkatkan kemampuan berpikir secara tajam dan mandiri.
  4. Memaksa dan mendorong orang untuk berpikir sendiri dengan menggunakan asas-asas sistematis

C. MATEMATIKA

 

Matematika adalah bahasa yang melambaikan serangkaian makna dari pernyataan yang ingin kita sampaikan. Lambang-lambang matematika bersifat “artifisial” yang baru mempunyai arti setelah sebuah makna diberikan kepadanya. Tanpa itu maka matematika hanya merupakan kumpulan rumus-rumus yang mati.

Bahasa verbal mempunyai beberapa kekurangan yang sangat mengganggu. Untuk mengatasi kekurangan kita berpaling kepada matematika. Matematika adalah bahasa yang berusaha menghilangkan sifat kabur, majemuk dan emosional dari bahasa verbal. Umpamanya kita sedang mempelajari kecepatan jalan kaki seorang anak maka objek “kecepatan jalan kaki seorang anak” dilambangkan x, dalam hal ini maka x hanya mempunyai arti yang jelas yakni “kecepatan jalan kaki seorang anak”. Demikian juga bila kita hubungkan “kecepatan jalan kaki seorang anak” dengan obyek lain misalnya “jarak yang ditempuh seorang anak” yang kita lambangkan dengan y, maka kita lambangkan hubungan tersebut dengan z = y / x dimana z melambangkan “waktu berjalan kaki seorang anak”. Pernyataan z = y / x tidak mempunyai konotasi emosional, selain itu bersifat jelas dan spesifik (Jujun S. Suriasumantri, 1990, 191).

Matematika dalam perkembangannya memberikan masukan-masukan pada bidang-bidang keilmuan yang lainnya. Konstribusi matematika dalam perkembangan ilmu alam , lebih ditandai dengan pengunaan lambang-lambang bilangan untuk menghitung dan mengukur, objek ilmu alam misal gejala-gejalah alam yang dapat diamatidan dilakukan penelaahan secara berulang-ulang. Berbeda dengan ilmu sosial yang memiliki objek penelaahan yang kompleks dan sulit melakukan pengamatan. Disamping objeknya yang tak terulang maka kontribusi matematika tidak mengutamakan pada lambang-lambang bilangan.

D. STATISTIKA

Secara etimologi, kata statistik berasal dari kata status (bahasa latin) yang mempunyai persamaan arti dengan state (bahasa Inggris) yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan dengan negara. Pada mulanya kata statistik diartikan sebagai “ kumpulan bahan keterangan (data), baik yang berwujud angka (data kuantitatif) maupun yang tidak berwujud angka (data kualitatif), yang mempunyai arti penting dan kegunaan bagi suatu negara”. Namun pada perkembangan selanjutnya, arti kata statistik hanya dibatasi dengan kumpulan bahan keterangan yang berwujud angka (data kuantitatif saja)  (Anas Sudiono dalam bakhtiar, 2010, 198).

Sedangkan menurut (Sudjana 1996 : 3) Statistika adalah pengetahuan yang berhubungan dengan cara-cara pengumpulan data, pengelolaan  atau penganalisiannya dan penarikan kesimpulan berdasarkan kumpulan data dan penganalisisan yang dilakukan.

Jadi statistika merupakan  sekumpulan metode dalam memperoleh pengetahuan   untuk mengelolah dan menganalisis data dalam mengambil suatu kesimpulan kegiatan ilmiah. Untuk dapat mengambil suatu keputusan dalam kegiatan ilmiah diperlukan data-data, metode penelitian serta penganalisaan harus akurat.

Pemerintah telah lama mengumpulkan dan menafsirkan data yang berhubungan dengan kepentingan bernegara, umpamanya data mengenai penduduk, pajak, kekayaan, dan perdagangan luar negeri.

Hubungan Antara Sarana Ilmiah Bahasa, Matematika dan Statistika

Sebagaimana yang kita bahas sebelumnya, agar dapat melakukan kegiatan berpikir ilmiah dengan baik, diperlukan sarana bahasa, matematika dan statistika. Bahasa merupakan alat komunikasi verbal yang dipakai dalam kegiatan berpikir ilmiah, dimana bahasa menjadi alat komunikasi untuk menyampaikan jalan pikiran tersebut kepada orang lain. Dan ditinjau dari pola berpikirnya, maka ilmu merupakan gabungan antara berpikir deduktif dan berpikir induktif. Matematika mempunyai peranan yang penting dalam berpikir deduktif, sedangkan statistika mempunyai peranan penting dalam berpikir induktif.

Penalaran induktif dimulai dengan mengemukakan pernyataan-pernyataan yang mempunyai ruang lingkup yang khas dan terbatas untuk menyusun argumentasi yang diakhiri pernyataan yang bersifat umum, umpamanya kita mempunyai fakta bahwa kerbau mempunyai mata, lembu mempunyai mata, harimau mempunyai mata, dan gajah mempunyai mata. Dari pernyataan tersebut dapat ditarik bahwa semua binatang mempunyai mata. Statistik mempunyai peranan yang penting dalam berpikir induktif.

Sebaliknya deduktif, cara berpikir dimana dari pernyataan yang bersifat umum ditarik kesimpulan yang bersifat khusus, mengunakan pola berpikir yang dinamakan silogismus. Contohnya semua mahluk mempunyai mata (permis mayor), si bolan adalah seorang makluk (permis minor), jadi si bolan mempunyai mata (kesimpulan). Matematika adalah pengetahuan yang disusun secara deduktif. Matematika juga merupakan bahasa yang melambangkan serangkaian makna dari pernyataan yang ingin disampaikan.

Sarana berfikir ilmiah pada dasarnya ada tiga, yaitu : Bahasa ilmiah, Logika dan Matematika, Logika dan Statistika. Bahasa ilmiah berfungsi sebagai alat komunikasi untuk menyampaikan jalan fikiran seluruh proses berfikir ilmiah. Logika dan matematika mempunyai peranan penting dalam berfikir deduktif sehingga mudah diikuti dan mudah dilacak kembali kebenarannya. Sedang logika dan statistika mempunyai peranan penting dalam berfikir induktif dan mencari konsep-konsep yang berlaku umum. Namun dizaman sekarang komputer jaga bisa dimasukan sebagai sarana berfikir ilmiah, karena dalam komputer semua ada, dan apa yang kita inginkan hmapir seluruhnya dapat dijawab oleh komputer.

 

 

 

 

Daftar Pustaka

http://blog.unsri.ac.id/aprizal/sarana-berpikir-ilmiah-bahasa-matematika-dan-statistika/sr/3560/

http://fdj-indrakurniawan.blogspot.com/2012/04/makalah-metode-berfikir-ilmiah-filsafat.html

http://ricky-diah.blogspot.com/2011/04/filsafat-ilmu-sarana-berfikir-ilmiah.html

SARANA_BERFIKIR_ILMIAH.pdf(SECURED)-Adobe Reader

Previous Older Entries

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.